Geothermal Indonesia: Antara Api yang Menyala dan Nurani yang Bertanya

PLTP Ulumbu di Manggarai Flores
Sumber :
  • Dok. PLN

Transisi energi tidak bisa hanya berarti mengganti batu bara dengan energi terbarukan, tetapi tetap dalam logika eksploitasi. Ia harus menjadi transformasi cara berpikir: dari menaklukkan alam menuju merawat bumi. Dari mendominasi masyarakat lokal menjadi merangkul mereka sebagai mitra utama.

img_title SMK Negeri 5 Kupang Jadi Lokasi Pelatihan Energi Terbarukan bagi Belasan CSO di NTT, Kolaborasi dengan IESR

Geothermal bisa menjadi berkah jika dikelola dalam kerangka keadilan ekologis. Itu berarti partisipasi penuh masyarakat lokal sejak tahap awal. Itu berarti akuntabilitas korporasi dan negara dalam dampak sosial-lingkungan. Itu berarti menghormati wilayah adat, spiritualitas lokal, dan hak atas tanah.

Untuk Siapa Energi Ini Menyala?

img_title FAPE-PS NTT: Bantuan Rp5,6 Juta per Hektare Jadi Jalan Entaskan Kemiskinan lewat Perhutanan Sosial

Jika geothermal adalah solusi, maka pertanyaan mendasarnya adalah: untuk siapa energi ini menyala? Untuk desa-desa yang selama ini gelap, atau untuk industri yang lapar energi? Untuk rakyat atau untuk laba?

Kita tidak sedang menolak energi hijau, tetapi menolak cara-cara lama dalam kemasan baru. Tidak ada yang lebih ironis dari energi yang bersih secara fisik, tetapi kotor secara sosial. Tidak ada yang lebih tragis dari proyek yang membawa cahaya, tetapi meninggalkan luka.

img_title Keuskupan Agung Ende dan GERAM Flores Gugat 3 SK Geothermal Flores ke MA

Mengapa dalam setiap proyek besar, suara yang kecil selalu dikecilkan? Mengapa kepentingan lokal selalu kalah oleh narasi nasional? Bukankah seharusnya pembangunan adalah simfoni, bukan monolog?

Menuju Jalan Tengah: Energi yang Merawat

Di tengah pro dan kontra, Indonesia butuh jalan tengah: geothermal yang ramah bumi sekaligus ramah nurani. Itu berarti memperkuat tata kelola energi yang demokratis, transparan, dan berbasis hak. Pemerintah, korporasi, dan masyarakat sipil harus duduk bersama, bukan saling menegasi. Akademisi dan jurnalis harus menjadi penuntun cahaya, bukan sekadar pembaca data.

Harus ada peta jalan geothermal yang bukan hanya teknokratis, tetapi juga humanis. Harus ada kebijakan yang melihat energi bukan semata komoditas, tetapi juga bagian dari kehidupan sosial, budaya, dan spiritual.

Api dan Jiwa

Geothermal adalah api yang menyala dari dalam bumi. Tapi api juga bisa membakar, jika tak dijaga. Maka tugas kita adalah memastikan bahwa api itu menjadi cahaya, bukan luka. Bahwa energi masa depan bukan hanya tentang listrik, tetapi juga tentang keadilan. Karena bumi bukan hanya tempat kita berdiri, tapi juga tempat kita berbagi.

Halaman Selanjutnya
img_title