Pendidikan Bukan Mesin, Melainkan Organisme Hidup

Kepsek SMPK MARDI WIYATA Kediri, Fr. Agustinus, BHK., M.Pd
Sumber :
  • Mikael Risdiyanto

NTT VIVA – Pendidikan di Indonesia masih sering diperlakukan bak mesin raksasa: seragam, kaku, dan berputar di atas kurikulum baku, jadwal ketat, serta standar capaian yang dipaksakan. 

img_title Sumba Timur Berkaca pada Data untuk Benahi Pendidikan Dasar

Model mekanistik ini seakan melucuti ruh pendidikan, menjadikannya sekadar produksi massal. Namun, pandangan itu dikritisi Kepala SMP Katolik (SMPK) Mardi Wiyata Kediri, Fr. Agustinus, BHK, M.Pd. 

Baginya, pendidikan sejatinya bukan mesin, melainkan organisme hidup dinamis, kompleks, dan selalu beradaptasi.

img_title Gempa Flores M7,7 Rusak 17 Fasilitas Pendidikan Depag di Manggarai

“Kalau kita pakai lensa sitologi, kelas itu bukan ruang mati. Ia seperti sel dalam tubuh, berdenyut dengan interaksi, emosi, dan dinamika yang membentuk pengalaman belajar,” ujarnya kepada media ini, Jumat (12 September 2025)

Ruang Kepsek SMPK Mardi Wiyata Kediri

Photo :
  • Mikael Risdiyanto

img_title Pasca Gempa NTT, 61 Sekolah di Nagekeo dan Ngada Disiapkan untuk Direvitalisasi

Dalam ilmu sitologi, sel adalah unit dasar kehidupan. Analogi ini, kata Fr. Agustinus, sangat relevan untuk memahami pendidikan: Nukleus (inti sel) sebagai guru dan kurikulum, pemberi arah dan nilai, Sitoplasma diartikan diskusi, interaksi, dan emosi yang menghidupkan kelas.

Membran sel adalah lingkungan belajar yang menyaring pengaruh luar budaya, informasi, hingga teknologi.

Seperti halnya jaringan sel yang membentuk kehidupan, jaringan interaksi murid, guru, dan lingkungan sekolah menciptakan denyut vital bagi pertumbuhan intelektual dan emosional.

Kurikulum sebagai gen, yang bisa berubah kurikulum, kata Fr. Agustinus, sering dipahami terlalu kaku. Padahal dalam perspektif sitologi, kurikulum ibarat gen cetak biru yang fleksibel.

Sama seperti gen yang diekspresikan berbeda di setiap sel, kurikulum pun diterjemahkan berbeda di tiap kelas. Guru berperan sebagai enzim pengatur, menyesuaikan materi dengan minat murid, gaya belajar, dan tantangan kontekstual.

“Kurikulum tidak boleh jadi resep mati. Ia harus lentur, agar relevan dengan kehidupan murid,” tegasnya.

Membaca gejala kelas seperti ilmuwan sel. Jika kelas adalah sel, maka kesehatan pendidikan bisa dibaca lewat “gejala sitologis”:

Fr. Agustinus menyebut, keterlibatan murid menjadi indikator kelas sehat. Sedangkan ketidakminatan merupakan gejala gangguan fungsi. Terakhir partisipasi yang rendah menjadi tanda stres seluler.

Guru, lanjutnya, harus berperan seperti ahli sitologi: mendiagnosis anomali, mengintervensi, dan memfasilitasi “penyembuhan” melalui metode pengajaran yang adaptif.

Halaman Selanjutnya
img_title