Paskah: Etos Kebangkitan

Feliks Hatam
Sumber :
  • Dok. Feliks Hatam

Oleh: Feliks Hatam (Staf Unika Santu Paulus Ruteng)

img_title 78 Mahasiswa Asistensi Paskah 2026 di Stasi Santu Yosep Indrong: Pelayanan Liturgi, Ekologi, dan Kebersamaan Umat

Manggarai, VIVA NTT–PERAYAAN keagamaan selalu menghadirkan ruang hening di tengah riuh kehidupan. Serentak mengajak manusia berhenti sejenak, merenung, dan menemukan kembali arah hidup. Namun, makna terdalam dari setiap perayaan tidak berhenti pada ritual, melainkan terletak pada bagaimana nilai-nilai yang dirayakan itu menjelma dalam kehidupan bersama.

Dalam tradisi Kristiani, Paskah dimaknai sebagai perayaan kebangkitan, kemenangan kehidupan atas kematian dan harapan atas keputusasaan. Kitab Suci menegaskan: “Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah iman kamu” (1 Korintus 15:14). Namun, kebangkitan juga merupakan panggilan eksistensial: “Kita akan hidup dalam hidup yang baru” (Roma 6:4). Dengan demikian, Paskah tidak hanya berbicara tentang iman, tetapi juga tentang cara hidup yang terus diperbarui.

img_title Satlantas Polresta Kupang Kota Siapkan Rute Pawai Paskah 2026

Katekismus Gereja Katolik menyebut kebangkitan sebagai “kebenaran puncak iman” (KGK 638), dan menegaskan bahwa misteri Paskah terus dihadirkan dalam kehidupan umat (KGK 1085). Sacrosanctum Concilium menegaskan karya penebusan berlangsung dalam kehidupan (SC 2). Sementara itu, Paus Fransiskus mengingatkan bahwa “Kristus yang bangkit adalah sumber harapan yang tidak mengecewakan” (Christus Vivit, 1). Dari merayakan (liturgya) kebangkitan menuju transformasi diri merupakan panggilan untuk menjadi manusia baru dalam dan melalui Kritus yang bangkit.  

Rahmat kebangkitan sebagai sumbernya berhembus membentuk nilai-nilai (etos). Etos kebangkitan dalam misteri Paskah adalah semangat hidup baru yang lahir dari pengalaman iman akan kebangkitan Kristus. Makna ini menjadi sebuah dorongan batin untuk bangkit dari keterpurukan, memperbarui diri, dan menghadirkan kehidupan yang lebih bermakna bagi sesame “Jika kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas…” (Kolose 3:1). Ayat ini menegaskan bahwa kebangkitan bukan hanya peristiwa iman, tetapi arah hidup yang baru, mengubah cara berpikir, bersikap, dan bertindak. 

img_title Polda NTT Kerahkan 3.227 Personel Gabungan untuk Pengamanan Paskah 2026

Rasul Paulus juga menegaskan “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5:17). Ini menunjukkan bahwa etos kebangkitan adalah transformasi total dari manusia lama menuju manusia baru.

Dalam terang itu, etos kebangkitan membentuk kita untuk mampu menciptkan transformasi diri, yakni dari kegelapan menuju terang (Efesus 5:8); Keberanian untuk bangkit “Bangunlah, hai kamu yang tidur… Kristus akan bercahaya atas kamu” (Efesus 5:14); Semangat pelayanan “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (Markus 10:45); Solidaritas dan kebersamaan “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu” (Galatia 6:2). Kesaksian hidup “Hendaklah terangmu bercahaya di depan orang” (Matius 5:16). Semangat ini dijelaskan dalam Evangelii Gaudium (Paus Fransiskus), bahwa sukacita Injil yang lahir dari kebangkitan harus mendorong umat untuk keluar, melayani, dan menjadi saksi di tengah dunia.

Halaman Selanjutnya
img_title