Membangun Kepercayaan Masyarakat dalam Sensus Ekonomi 2026
- Sevrin Waja
Oleh: Welhelmina Oktaviani Ngobe
“Sudah sering didata, tetapi saya tidak pernah mendapat bantuan.”
“Kalau saya memberikan data usaha yang sebenarnya, nanti pajak saya naik.”
Dua kalimat tersebut bukan sekadar pertanyaan. Keduanya menggambarkan cara sebagian masyarakat memandang data dan proses pendataan. Dalam pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) di Nagekeo, kekhawatiran semacam ini masih dapat ditemukan ketika petugas berhadapan langsung dengan pelaku usaha.
Padahal, sensus ekonomi bukan sekadar kegiatan mengumpulkan angka. SE2026 merupakan momentum untuk melihat wajah perekonomian Nagekeo secara lebih utuh—dari usaha kecil yang tumbuh di rumah dan kios, perdagangan, industri pengolahan, jasa, hingga berbagai aktivitas ekonomi lainnya. Secara nasional, SE2026 mencakup hampir seluruh lapangan usaha. Data yang dihasilkan antara lain menggambarkan struktur ekonomi, karakteristik usaha, permodalan dan investasi, serta perkembangan ekonomi digital dan ekonomi lingkungan.
Di Nagekeo, proses menuju pendataan lapangan diawali dengan penyiapan petugas yakni melaksanakan pelatihan petugas SE2026, setelah sebelumnya peserta mengikuti pembekalan melalui Massive Open Online Course (MOOC). Pelatihan tersebut menjadi bagian penting untuk menyamakan pemahaman konsep, penggunaan teknologi, serta kesiapan petugas sebelum berhadapan dengan responden.
Di lapangan, petugas mendatangi unit usaha secara langsung. Wawancara dilakukan dengan menggunakan instrumen pendataan sesuai karakteristik usaha. Secara nasional, pendataan SE2026 menggunakan kombinasi moda CAPI, PAPI, dan CAWI. CAPI digunakan dalam pendataan lapangan dengan aplikasi, sedangkan PAPI menjadi alternatif kuesioner kertas dan CAWI digunakan untuk karakteristik usaha tertentu, termasuk usaha besar.
Bagi responden, pertanyaan-pertanyaan dalam sensus mungkin terlihat sederhana. Namun bagi petugas, setiap pertanyaan memiliki tujuan untuk membangun gambaran ekonomi yang lebih lengkap. Petugas perlu mengetahui kegiatan utama usaha, karakteristik usaha, tenaga kerja, kondisi dan kinerja usaha, serta aspek ekonomi lainnya. Pada bagian tertentu, pertanyaan dapat menyentuh informasi yang bagi pelaku usaha dianggap sensitif. Di sinilah kemampuan petugas berkomunikasi menjadi sangat penting.
Tidak semua responden langsung memahami mengapa informasi tersebut diperlukan. Sebagian masih menghubungkan pendataan dengan pajak, bantuan sosial, atau kepentingan administratif lainnya. Kekhawatiran tersebut dapat membuat responden menjadi lebih berhati-hati dalam memberikan jawaban, bahkan berpotensi memengaruhi ketepatan informasi yang diberikan.