Update Gempa Mbay Nagekeo: Warga Trauma Balik ke Rumah
- Sevrin Waja
Nagekeo, NTTVIVA- Warga Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, memilih bertahan di tempat-tempat terbuka dan perbukitan setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah tersebut pada Sabtu (15/8/2026) pagi.
Pantauan di sejumlah lokasi, warga mengungsi secara mandiri ke wilayah yang lebih tinggi. Mereka mendirikan tenda-tenda darurat sebagai tempat berlindung karena masih trauma dan khawatir terhadap gempa susulan.
Sebagian warga bahkan belum berani kembali ke rumah. "Bertahan dulu di bukit, takut mau pulang ke rumah, soalnya semua mengungsi" ujar Pius Ndiwa, warga Desa Aeramo, Kecamatan Aesesa, 14 Agustus 2026 malam.
Guncangan kuat yang terjadi membuat mereka memilih meninggalkan bangunan dan membawa anggota keluarga ke lokasi yang dianggap lebih aman.
Kondisi semakin mengkhawatirkan karena sejumlah rumah dan bangunan dilaporkan mengalami kerusakan. Beberapa di antaranya bahkan roboh akibat kuatnya guncangan.
Di tengah situasi tersebut, warga yang mengungsi masih menunggu bantuan. Hingga pantauan dilakukan, bantuan untuk kebutuhan dasar pengungsi disebut belum kunjung tiba.
"Semoga segera ada bantuan" harapnya.
Gempa utama terjadi sekitar pukul 04.58 WIB atau 05.58 WITA. BMKG memutakhirkan kekuatan gempa menjadi magnitudo 7,7 dengan kedalaman 15 kilometer dan episentrum berada sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo. Gempa tersebut sempat memicu peringatan dini tsunami.
BNPB sebelumnya melaporkan sekitar 2.000 warga di Kabupaten Nagekeo melakukan evakuasi mandiri sebagai langkah kewaspadaan setelah gempa dan peringatan dini tsunami.
Kini, setelah peringatan tsunami berakhir, persoalan warga belum selesai. Mereka masih berhadapan dengan rasa takut, rumah yang rusak, serta kebutuhan mendesak selama berada di lokasi pengungsian.
Warga berharap pemerintah segera turun ke lokasi untuk memastikan keselamatan mereka, mendata kerusakan, serta menyalurkan bantuan berupa tenda, makanan, air minum, obat-obatan dan kebutuhan dasar lainnya.
Bagi warga Mbay dan wilayah sekitarnya, gempa pagi itu meninggalkan trauma yang belum hilang. Rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung kini belum sepenuhnya mereka anggap aman.