Seujung Sendok Kecil Kebahagiaan Eliya

Potret perempuan alami KDRT
Sumber :
  • Ilustrasi

Oleh: Eni Setyowati

img_title Tambang Pasir Watu Mori Disetop Sementara, ESDM NTT Tertibkan Izin

ViVa NTT– Tamparan pertama jatuh pada hari ketiga pernikahan mereka. Yang Eliya ingat bukan hanya rasa sakitnya, melainkan juga benih amarah, sakit hati, dan perasaan diabaikan. Siang itu mereka makan di pondok kebun, wajah dan badan penuh peluh, perut kosong. Tidak ada sambal. Hanya itu sebabnya. Setidaknya begitulah Eliya meyakinkan dirinya sendiri sambil memunguti butir-butir nasi satu per satu dari tanah dengan telapak tangan yang gemetar setelah Sebas menendang semua makanan dari atas tikar pondok.

Malam itu Eliya menangis dalam diam sampai matanya bengkak, sementara Sebas merokok di ujung tempat tidur tanpa sepatah kata. Ketika tangis Eliya tak kunjung reda, Sebas akhirnya buka suara.

img_title Mawatu Labuan Bajo Dibuka, Kawasan 12 Hektare di Batu Cermin Disebut “Pusat Kota Baru”

“Eliya, berhentilah menangis. Seorang istri harus patuh pada perkataan suami. Gara-gara kelalaianmu, aku tidak bisa makan dengan nikmat. Kalau aku sakit karena kurang makan, kau juga yang repot.”dia membentak, “Sudah, diam kau!”

Beberapa saat kemudian, Sebas menghampiri dan memeluk Eliya erat-erat. Dielusnya rambut Eliya, disertai gumaman permintaan maaf yang samar. Tangis Eliya berhenti. Sakit di dadanya berganti dengan harapan bahwa Sebas hanya khilaf, dan bahwa semua ini terjadi karena kelalaiannya sendiri. Sambil balas memeluk Sebas, Eliya berjanji dalam hati akan menjadi istri teladan, supaya Sebas semakin menyayanginya dan memberinya banyak kebahagiaan-kebahagiaan yang diakejar sejak meninggalkan rumah Bapak dan Mama untuk merantau ke Kalimantan, tempat dia pertama kali bertemu Sebas sebelum memutuskan pulang kampung untuk menikah.

img_title Bupati Sumba Timur Lepas 67 Kontingen POPDA VIII 2026, Target Pertahankan Prestasi

Tahun-tahun berlalu dan anak-anak lahir satu demi satu: Dewi, Yohan, Inna, lalu si bungsu, Stefan. Mereka tinggal di rumah panjang milik mertua, bersama keluarga kakak lelaki Sebas. Meskipun rumah itu besar, rasanya sempit karena dihuni lima belas orang. Dunia Eliya hanya berputar dari rumah ke dapur, dari dapur ke ruang tidur, dan sesekali ke kebun untuk mengantar makanan. Sebenarnya Eliya ingin tetap bekerja di kebun seperti saat baru menikah, tetapi sejak dia sakit-sakitan lima tahun lalu, Sebas melarangnya. Setelah kesehatan Eliya mulai terganggu, kekurangan apa pun menjadi alasan bagi Sebas untuk memukul. Beras habis, Sebas memukul. Token listrik berbunyi sehari penuh karena belum diisi ulang, Sebas memukul. Hujan deras sehingga tak ada pekerjaan, Sebas memukul dua kali lebih kejam, sebelum terduduk lesu dan menatap ke luar sambil menyesap kopi. Semua orang di rumah itu melihat dan mendengar makian Sebas, tetapi semuanya diam, pura-pura tidak tahu.

Halaman Selanjutnya
img_title