Transpuan dan Jalan Keluar Mencari Modal Usaha

Mona saat menjalankan aktivitas di salon miliknya di Pasar Danga, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, NTT.
Sumber :
  • Sevrin Waja

Nagekeo, NTTVIVA- Suara hair dryer menderu, bersahutan dengan percakapan pelanggan. Aroma Makarizo menyeruak di antara hembusan kipas angin yang terus berputar.

img_title Menenun Jalan ke Pasar Digital

Di depan cermin, Mona (50) cekatan membagi rambut, menyisir, meluruskan dengan catok, lalu mengarahkannya dengan hair dryer. Sesekali, matanya mengamati pantulan rambut pelanggan untuk memastikan setiap bagian tertata rapi.

Botol-botol perawatan rambut dan peralatan salon memenuhi meja di dekatnya. Di tempat inilah Mona menggantungkan hidup dari usaha yang dirintisnya sejak 2016.

img_title IWAPI Dorong Kebangkitan Ekonomi Pasca Gempa

“Yang utama kepuasan pelanggan, karena tamu adalah raja,” ujar Mona saat ditemui di salon miliknya di Kompleks Pasar Danga, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (22/9/2026).

Mona, yang bernama asli Nasrudin, merupakan transpuan asal Bima yang merantau ke Nagekeo. 

img_title Alan Samsudin Hibahkan Tanah untuk Hunian Tetap Penyintas Gempa

Sebelum menetap di Nagekeo, Mona aktif dalam organisasi yang bergerak di bidang lingkungan dan sosial di Bima. Di tempat tinggalnya sekarang, organisasi transgender sebenarnya sudah terbentuk, tetapi kegiatannya belum berjalan aktif. 

“Untuk sementara, komunikasi kami masih sebatas melalui grup WhatsApp” akunya.

Hampir satu dekade menjalankan salon, pendapatannya belum stabil. “Penghasilan tidak tentu, kadang ramai, kadang sepi,” katanya.

Saat hari raya, pendapatannya bisa mencapai sekitar Rp2 juta. Di luar masa ramai, pelanggan terkadang hanya satu atau dua orang sehari. Bahkan, ada hari ketika kursi salon kosong.

Ketika membutuhkan modal, Mona meminjam dari pemberi pinjaman informal untuk membeli kaca dan peralatan salon.

“Sudah dua kali, pertama Rp4 juta, kedua Rp4 juta,” ujarnya.

Setiap pinjaman Rp4 juta harus dicicil Rp560 ribu per minggu selama 10 minggu. Artinya, Mona mengembalikan Rp5,6 juta untuk setiap pinjaman.

Usaha kuliner Sambal Shoultan milik Ade Umrana Rachmawaty yang menjalankan usahanya berkat kredit KUR BRI

Photo :
  • Sevrin Waja

Dari dua pinjaman senilai Rp8 juta, total pengembaliannya mencapai Rp11,2 juta, dengan selisih Rp3,2 juta atau 40 persen dari pokok pinjaman.

Kebutuhan modal belum berhenti. Mona kemudian meminjam Rp2 juta dari penyedia modal yang dikenal masyarakat sebagai “koperasi harian”. Ia mengaku bukan anggota lembaga tersebut.

Pinjaman itu harus dikembalikan sebesar Rp2,8 juta dalam 100 hari, dengan setoran Rp28 ribu setiap hari. Selisih pengembalian mencapai Rp800 ribu atau 40 persen dari pokok pinjaman.

Halaman Selanjutnya
img_title