Api di Balik Lilin Yuliana

Lilin Paskah
Sumber :
  • Nera Academia

Keesokan harinya, Jumat Agung

Yuliana berdiri di dapur, memasak bubur kacang untuk buka puasa bersama. Di radio tua, berita tentang konflik, banjir, dan harga pangan yang melonjak terus mengalun. Ia menoleh ke halaman. Frans sedang duduk di teras dengan gitar, menyanyi lagu patah hati. Rafael sedang nonton berita tentang artis Korea yang bunuh diri.

“Ma, kenapa Tuhan harus mati di salib? Sepertinya tidak masuk akal. Dia kan Tuhan?” tanya Rafael, matanya tak lepas dari layar.

Yuliana meletakkan sendok. Ia duduk di sebelah Rafael. “Rafa, kamu tahu rasanya ditinggal teman? Atau dikhianati?”

Rafael mengangguk pelan.

“Jumat Agung itu tentang Tuhan yang mengerti rasanya. Yang tidak datang dari atas langit bawa mukjizat, tapi datang ke luka manusia. Ia dipukul, dihina, disalib. Karena cinta sejati tidak datang dari kekuatan, tapi dari solidaritas.”

Frans mendekat, duduk di samping mereka. “Jadi, Yesus itu bukan cuma juru selamat, tapi juga teman seperjuangan?”

Yuliana tersenyum. “Dia yang pertama kali memeluk luka, supaya kita tahu bahwa penderitaan bukan akhir. Bahwa salib bukan kuburan, tapi jembatan.”

Sore itu, mereka berjalan kaki ke Gereja. Jalan setapak itu dipenuhi umat, dalam diam, membawa Rosario kecil dari rumah masing-masing. Di tengah ibadah, saat kisah sengsara dibacakan perlahan, mata Vina berkaca-kaca. “Ma, Tuhan Yesus tuh benar-benar menderita ya, seperti layaknya manusia …”

Yuliana menggenggam tangan si bungsu. “Iya, Vin. Dia menderita, supaya kita tidak merasa sendirian waktu hidup terasa gelap.”

Malam Paskah tiba. Hujan rintik turun. Gereja gelap. Lilin besar dinyalakan di luar altar, dan cahaya mulai menyebar ke tiap lilin umat. Mikael yang awalnya ogah-ogahan kini menggenggam lilin dengan khusyuk. Lukas mengabadikan momen itu, lalu menyimpan ponsel di saku. Gratia memejamkan mata, menyanyikan Exsultet dengan suara pelan tapi penuh makna.

Malam Paskah tiba

Hujan rintik turun. Gereja gelap. Lilin besar dinyalakan di luar altar, dan cahaya mulai menyebar ke tiap lilin umat. Mikael yang awalnya ogah-ogahan kini menggenggam lilin dengan khusyuk. Lukas mengabadikan momen itu, lalu menyimpan ponsel di saku. Gratia memejamkan mata, menyanyikan Exsultet dengan suara pelan tapi penuh makna.