Api di Balik Lilin Yuliana

Lilin Paskah
Sumber :
  • Nera Academia

Dalam homilinya, Pastor Doni berkata, “Kita sering merasa hidup seperti kubur. Gelap. Sepi. Tak ada harapan. Tapi Paskah berkata: jangan takut. Kubur itu kosong. Hidup menang. Terang menang.”

Yuliana menoleh ke anak-anaknya. Ada yang berubah. Tak banyak bicara. Tapi ia melihat api kecil di mata mereka—api yang menyala bukan karena lilin, tapi karena cahaya dari dalam diri mereka.

Minggu pagi

Mereka sarapan bersama. Rafael menulis puisi Paskah di status WhatsApp. Gratia membuat desain kartu ucapan dan mengirimkannya ke grup keluarga. Frans menyanyikan lagu rohani dengan irama reggae. Lukas bahkan menulis postingan di Instagram: “Paskah itu kayak restart. Hidup baru. Bukan karena segalanya beres, tapi karena kita punya alasan untuk tidak menyerah.” Vina memeluk ibunya.

“Ma, saya mau ikut pelayanan remaja minggu depan. Boleh?”

Mikael tersenyum, menepuk pundak ibunya. “Thanks ya, Ma. Mama tidak hanya mengajarkan kami tentang iman. Tapi mengajarkan kami tentang hidup.” Yuliana tak berkata apa-apa. Ia hanya menunduk, menahan air mata syukur.

Di luar, matahari Paskah menyinari lembah Poco Kuwus. Dan di dalam rumah kecil itu, kebangkitan telah lebih dulu terjadi. Bukan di langit. Tapi di hati yang kembali menyala.

“Kebangkitan bukan hanya soal Yesus. Tapi soal kita—yang dipanggil untuk bangkit dari takut, dari letih, dari kubur-kubur kecil dalam hidup. Dan kadang, semua itu dimulai dari seorang ibu yang tak pernah lelah menyalakan lilin dalam gelap.”