Menjemput Gabah dari Pematang
- Sevrin Waja
“Jemur tipis saja supaya bisa kering memang,” ujar Hermanus.
Dalam satu hari, mereka hanya mampu menjemur sekitar 6 karung gabah. Dengan kapasitas tersebut, dibutuhkan kurang lebih 18 hari untuk menyelesaikan seluruh proses penjemuran hingga padi benar-benar kering. “Kalau sehari kami hanya bisa jemur sekitar 6 karung. Jadi memang harus sabar, bisa sampai dua minggu lebih baru selesai semua,” katanya.
Petani di Desa Aeramo, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, saat menjemur gabah secara manual mengandalkan sinar matahari
- Sevrin Waja
Proses ini menunjukkan beban pascapanen masih ditanggung petani, dengan waktu, biaya, dan risiko mutu sebelum gabah siap dijual.
Harga Pasar dan Tekanan Nilai Jual
Suasana Pasar Danga, Kecamatan Aesesa, Sabtu siang (9/5), tampak ramai seperti biasa. Aktivitas jual beli berlangsung padat dengan suara tawar-menawar yang bersahutan di antara lorong-lorong los pasar.
Di sudut penjualan beras, Yovita, ibu rumah tangga yang juga adalah petani asal Desa Maropokot, duduk di bawah terik matahari di depan tumpukan karung beras. Sesekali ia menyeka keringat sambil menunggu pembeli lewat. “Satu kilo Rp13 ribu. Ini lihat saja sendiri, beras bulat bagus, tadi saya ada bawa 500 kilo ini sisa dua karung,” ungkapnya.
Harga beras di pasar masih sangat dipengaruhi tengkulak yang bebas menentukan harga, sehingga posisi tawar petani lemah dan tidak memiliki kendali atas harga jual.
Aktivitas jual beli beras di Pasar Danga, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo
- Sevrin Waja
Seperti yang dialami Ermianus Goo dan Anus Soba, petani asal Desa Aeramo, yang justru membawa pulang beras mereka ke rumah lantaran tidak laku dijual. “Orang tawar hanya Rp11 ribu, mending bawa pulang, tunggu nanti harga bagus baru jual,” ungkap Ermianus.
Saat ini harga beras di sejumlah pasar di Nagekeo berkisar antara Rp11.000–Rp13.000 tergantung kualitas. Beberapa pedagang mengaku membeli gabah dengan harga Rp11.000–Rp12.000 untuk kemudian dijual dengan harga lebih tinggi. “Sedikit lagi mungkin turun karena sudah masuk musim panen,” ujar pedagang yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Ijon: Jalan Pintas yang Menjadi Beban Struktural
Di tengah tingginya biaya produksi dan ketidakpastian harga, tidak semua petani memiliki ruang untuk bertahan hingga masa panen. Dalam situasi terdesak, sebagian memilih jalan pintas melalui praktik ijon. Salah satunya Ferdinandus Dhega, petani di Desa Olaia.