Menenun Jalan ke Pasar Digital

Cleofania Woga Nenu penenun asal Kampung Boawae, Kecamatan Boawae Kabupaten Nagekeo, NTT sedang asyik menenun Hoba Nage
Sumber :
  • Sevrin Waja

Nagekeo, NTTVIVA- Di sebuah gubuk kecil berdinding pelupu di samping rumahnya, Cleofania Wonga Nenu duduk di hadapan alat tenun.

img_title Alan Samsudin Hibahkan Tanah untuk Hunian Tetap Penyintas Gempa

Kedua kakinya menjulur ke depan, sementara tangannya bergerak menyisipkan dan merapatkan benang. Matanya mengikuti susunan benang yang perlahan membentuk pola kain Hoba Nage.

Bagi penenun di Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), selembar kain tidak selesai dalam sehari. Dari menggulung benang hingga menghasilkan kain, prosesnya membutuhkan ketekunan dan waktu.

img_title Wakil Bupati Nagekeo Meninggal Dunia Diduga Akibat Serangan Jantung

“Dari proses penggulungan benang sampai menjadi satu lembar kain, membutuhkan waktu kurang lebih tiga minggu,” kata Cleofania saat ditemui di kediamannya di Kampung Boawae, Kecamatan Boawae, Jumat, 16 Oktober 2026.

Dalam sebulan, perempuan 25 tahun ini biasanya menghasilkan dua hingga tiga lembar kain. Harganya berkisar Rp500.000–Rp600.000 per lembar, bergantung pada jenis dan pengerjaannya.

img_title Sinyal di Tengah Reruntuhan: Jalan Pulang Penyintas Gempa

Di tengah proses produksi yang panjang itu, Cleofania berupaya mencari cara agar kain buatannya menjangkau lebih banyak pembeli.

Cleofania memanfaatkan Facebook, Instagram, WhatsApp hingga TikTok untuk memasarkan hasil tenun tanpa harus selalu membawanya ke pasar.

“Untuk penjualan online yang selama ini saya alami, sangat baik dan membantu karena lebih mudah ketimbang saya harus jual ke pasar,” ujarnya.

Akan tetapi, kemudahan menawarkan produk melalui media sosial belum otomatis membuat penjualan melonjak. Jangkauan pasar memang dapat meluas, tetapi hasil akhirnya tetap bergantung pada permintaan pembeli, kemampuan mengelola promosi, dan kapasitas produksi.

Pengalaman Cleofania memperlihatkan bahwa teknologi membuka jalan baru bagi penenun. Akan tetapi, seberapa jauh jalan itu membawa perubahan ekonomi bergantung pada kondisi dan kemampuan masing-masing perajin.

Dari Alat Tenun ke Layar Ponsel

Jika bagi Cleofania media sosial mempermudah promosi, pengalaman Maria Gramensiana Nuba menunjukkan bahwa pemasaran digital juga dapat mengubah ritme penjualan.

Penenun dari Desa Tengatiba, Kabupaten Nagekeo ini mulai memanfaatkan telepon genggam untuk menawarkan kain kepada calon pembeli.

Cara yang sebelumnya mengandalkan pasar dan pertemuan langsung kini dilengkapi komunikasi melalui media sosial.

“Dulu kita jual manual di pasar. Sekarang tinggal lewat HP. Kalau perubahan sih jauh lebih cepat laku, orang langsung datang ambil. Saya kadang ada pembeli dari luar daerah, paling jauh sampai Malaysia,” ujarnya.

Sebelumnya, Gramensiana menjual sekitar dua hingga empat kain dalam sebulan. Melalui pemasaran digital, pesanan dapat meningkat hingga empat sarung atau kain jadi dalam seminggu.

Ketika permintaan melebihi kemampuan produksinya, ia juga menghubungkan pembeli dengan penenun lain. Dengan cara itu, manfaat pemasaran digital tidak hanya dirasakan dirinya, tetapi turut membuka peluang pesanan bagi perajin lain.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana telepon genggam dapat menjadi penghubung antara perajin dan pasar yang lebih luas. Namun, jangkauan yang semakin jauh juga menuntut koneksi internet yang memadai.

Inda Nago, salah seorang penjual tenun daring, telah menggunakan Facebook dan TikTok untuk memperkenalkan produknya sejak 2021. Pembelinya berasal dari berbagai daerah di Indonesia hingga Malaysia dan Spanyol.

Meski pasarnya meluas, ia masih menghadapi kendala ketika mempromosikan produk secara langsung melalui siaran video.

“Internet juga kadang hilang muncul, kadang-kadang kita live tiba-tiba jaringan putus,” ungkap pemilik akun TikTok Teh Indah Butik yang memiliki 2.469 pengikut itu.

"Biasanya ketika saya posting di Medsos ada yang komentar tanya. Kalau ada yang berminat mereka Chat, sepakat uang ditransfer baru saya kirim barangnya" tambahnya.

Inda Nago pemilik Teh Indah Butik di Pasar Danga, Kecamatan Aesesa sedang live Tiktok memasarkan aneka produk tenun Nagekeo

Photo :
  • Sevrin Waja

Gangguan jaringan dapat memutus komunikasi dengan calon pembeli ketika promosi berlangsung. Padahal, bagi usaha kecil, media sosial dapat berfungsi sebagai etalase untuk memperlihatkan produk tanpa harus membuka toko di banyak tempat.

"Kendala itu palingkan soal jaringan, biasanya pas kita live Tiktok kemudian jaringan hilang" jelas Inda.

Kendala tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan pemasaran digital tidak hanya ditentukan oleh kemauan perajin untuk menggunakan teknologi. 

Ketersediaan jaringan juga menentukan apakah kesempatan yang terbuka dapat dimanfaatkan secara konsisten.

Di sejumlah wilayah, persoalannya bahkan lebih mendasar: akses internet sama sekali belum memadai untuk mendukung pemasaran daring.

Ermelinda Goo, penenun berusia 48 tahun dari Desa Mbaenuamuri, Kecamatan Keotengah, masih mengandalkan penjualan langsung di pasar karena keterbatasan jaringan internet di wilayahnya.

“Di sini jaringan susah, saya selalu jual ke pasar,” katanya.

Sementara itu, Siti Sarah Mahmud, 47 tahun, dari Desa Nggolombay, Kecamatan Aesesa, menggunakan telepon genggam terutama untuk berkomunikasi. Ia belum memanfaatkan media sosial untuk memasarkan hasil tenun.

“Tidak pernah posting-posting di medsos. Saya hanya tenun kalau ada orang yang datang pesan,” ujarnya.

Kondisi mereka menunjukkan bahwa memiliki telepon genggam tidak serta-merta berarti seseorang telah terhubung dengan pasar digital.

Akses internet, keterampilan menggunakan platform, dan kemampuan mengelola penjualan sama-sama menentukan peluang perajin untuk berkembang.

Menjangkau Wilayah yang Belum Terhubung

Pengalaman para penenun tersebut memperlihatkan adanya kesenjangan dalam pemanfaatan teknologi. Sebagian sudah menjangkau pembeli hingga luar negeri, sedangkan sebagian lainnya masih bergantung pada pasar karena jaringan internet belum mendukung.

Di Kabupaten Nagekeo, persoalan konektivitas menjadi salah satu tantangan dalam memperluas pemasaran digital.

Data pemerintah daerah Kabupaten Nagekeo pada 2026 masih ada 57 desa dan kelurahan yang mengalami blank spot, antara lain di Nangaroro, Keo Tengah, Mauponggo, dan Boawae.

Sarah Mahmud penenun di Desa Nggolombay, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, NTT sedang menenun Lipa Dhowik

Photo :
  • Sevrin Waja

Kondisi tersebut tersebar di sejumlah kecamatan dan menjadi tantangan dalam memperluas pemanfaatan internet untuk kegiatan ekonomi, termasuk pemasaran tenun secara daring.

Angka tersebut menggambarkan sebaran wilayah yang menghadapi persoalan konektivitas. Meski demikian, tidak berarti seluruh penduduk di setiap desa sama sekali tidak memperoleh sinyal. Kondisi jaringan dapat berbeda antarlokasi, bahkan di dalam satu wilayah desa.

Kepala Bidang Pengelolaan Informatika Dinas Komunikasi dan Informatika Nagekeo, Joachim Sala Bongo, mengatakan perluasan konektivitas penting agar internet dapat mendukung kegiatan ekonomi masyarakat, termasuk pemasaran produk lokal.

“Langkah ini penting agar internet tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi, tetapi juga dimanfaatkan untuk memasarkan produk dan memperkenalkan tenun lokal kepada konsumen yang lebih luas,” ungkap Joachim.

Perluasan jaringan menjadi langkah penting, tetapi bukan satu-satunya kebutuhan. Ketika akses internet tersedia, penenun juga perlu mengetahui cara memanfaatkannya untuk mengembangkan usaha.

Pendampingan dapat mencakup keterampilan membuat foto produk yang menarik, menulis deskripsi kain, menetapkan harga, berkomunikasi dengan pembeli, hingga mengelola pengiriman. Keterampilan tersebut membantu perajin mengubah keberadaan internet menjadi sarana pemasaran yang lebih efektif.

Joachim menekankan bahwa ketersediaan jaringan perlu berjalan bersama peningkatan kemampuan masyarakat dalam menggunakan teknologi.

“Tanpa dukungan tersebut, jaringan internet yang tersedia belum tentu berubah menjadi peluang ekonomi. Sebaliknya, keterampilan promosi yang baik pun sulit dimanfaatkan ketika koneksi terputus-putus,” ungkap Joachim.

Dengan demikian, perluasan konektivitas dan literasi digital perlu berjalan beriringan. Jaringan membuka akses, sedangkan keterampilan membantu penenun memanfaatkan akses itu untuk memperkenalkan produk, berkomunikasi dengan konsumen, dan mengelola pesanan.

Membuka Peluang Ekonomi bagi Penenun

Selain konektivitas dan keterampilan digital, kemampuan menyesuaikan produk dengan kebutuhan pembeli turut menentukan keberhasilan pemasaran. Pasar yang lebih luas memberikan peluang, tetapi perajin tetap harus menjaga kualitas dan memahami selera konsumen.

Sekretaris Dekranasda Kabupaten Nagekeo, Sherly Mitang, mengatakan penenun mulai menyesuaikan produk dengan permintaan pasar.

“Penenun semakin rajin membawa produk di showroom Dekranasda, serta mulai berkreasi dengan warna dan motif yang lebih menarik, sesuai permintaan pasar,” ujarnya.

Berdasarkan data Dekranasda yang dihimpun pada 2025, terdapat sekitar 1.200 penenun aktif di Kabupaten Nagekeo. Mereka menjadi bagian penting dari keberlanjutan tenun ikat sekaligus potensi ekonomi daerah yang perlu didukung melalui perluasan pemasaran.

“Kami menyediakan benang berkualitas bagi penenun dan kelompok tenun. Setelah kain selesai, kami membelinya dengan harga standar untuk dipasarkan melalui showroom maupun secara daring,” ungkap Sherly.

Dekranasda Kabupaten Nagekeo membina sekitar 50 kelompok penenun. Pembinaan ini menjadi salah satu modal untuk memperkuat pemasaran, meningkatkan kualitas produk, serta mendorong perajin memanfaatkan teknologi digital secara lebih terarah.

Sherly menjelaskan bahwa pelatihan bagi penenun pernah dilaksanakan pada November 2021 dan Mei 2023, termasuk materi keterampilan usaha. 

"Pendampingan semacam ini penting agar perajin tidak hanya mampu menghasilkan kain, tetapi juga memahami cara menawarkan dan mengembangkan produknya" katanya.

Pegawai Dekranasda Kabupaten Nagekeo menyiapkan desain dan materi publikasi motif tenun untuk dipasarkan melalui kanal digital.

Photo :
  • Sevrin Waja

Peluang ekonomi tenun juga terlihat dari aktivitas perdagangan di Pasar Rabu Kecamatan Boawae. Tercatat, sekitar 75 penenun disebut membawa kain untuk dijual setiap pekan.

"Jika setiap penenun membawa satu kain seharga rata-rata Rp350.000, nilai barang yang ditawarkan dapat mencapai sekitar Rp105 juta dalam sebulan, dengan asumsi kegiatan berlangsung selama empat pekan" urainya.

Angka tersebut merupakan perkiraan nilai kain yang dibawa ke pasar, bukan nilai penjualan aktual atau pendapatan bersih penenun. 

Jumlah kain yang benar-benar terjual, harga transaksi, biaya bahan, serta waktu pengerjaan menentukan penghasilan yang akhirnya diterima.

Sherly menjelaskan, kain yang dijual di pasar mingguan dan produk yang dipajang di showroom memiliki perbedaan dari segi bahan dan pengerjaan. Perbedaan tersebut turut memengaruhi harga serta segmen pembelinya.

"Perbedaan bahan, pengerjaan, dan motif dapat memengaruhi harga serta segmen pembeli" paparnya 

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa peluang ekonomi tenun tidak hanya ditentukan oleh luasnya pasar. Kualitas produk, kemampuan memenuhi permintaan, dan strategi pemasaran turut menentukan manfaat yang diterima perajin.

Pengalaman para penenun memperlihatkan hasil yang beragam. Cleofania Woga Naneu merasa terbantu mempromosikan kain, tetapi belum mengalami lonjakan penjualan yang berarti.

Gramensiana memperoleh lebih banyak pesanan dan menghubungkan pembeli dengan penenun lain. Inda Nago telah menjangkau konsumen hingga luar negeri, meski masih menghadapi gangguan jaringan.

"Pemasaran digital perlu didukung upaya pengembangan usaha yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing penenun" ungkap Sherly.

Sebab, lanjut Sherly perluasan pasar akan lebih bermanfaat jika penenun mampu menjaga kualitas, memenuhi pesanan, dan memperoleh nilai ekonomi yang layak dari hasil kerjanya.

Memasarkan Kain, Mewariskan Identitas

Peluang pemasaran yang semakin luas juga membawa tantangan lain: bagaimana memperkenalkan tenun bukan hanya sebagai barang dagangan, tetapi sebagai produk yang memiliki sejarah dan identitas budaya.

Setiap kain membawa motif, teknik pengerjaan, dan pengetahuan yang diwariskan antargenerasi. Ketika kain dipasarkan kepada pembeli yang lebih jauh, informasi tentang asal-usul dan maknanya ikut menentukan bagaimana produk tersebut dipahami.

Naldo Liha, seorang pengumpul kain di Kupang, mengenal tenun Nagekeo melalui akun Instagram Dekranasda. Ia memilih kain berdasarkan foto, melakukan pembayaran, lalu menunggu pengiriman.

Naldo mengaku, sebagian kain tenun yang ia beli digunakan untuk kebutuhan pribadi, sedangkan sebagian lainnya dijual kembali secara daring.

“Beta kan langganan kalau untuk beli kain motif. Ada yang dijahit untuk baju kantor, ada juga sebagian yang dijual lagi secara online,” kata Naldo.

Sekretaris Dekranasda Nagekeo Sherly Mitang saat berada di showroom Dekranasda

Photo :
  • Sevrin Waja

Menurutnya, kain tradisional dapat mengikuti perkembangan mode tanpa kehilangan identitasnya.

“Sekalipun kain motif itu punya nilai budaya tapi bisa adaptif dengan perkembangan fashion zaman,” ujarnya.

Naldo menyarankan agar promosi digital tidak hanya menampilkan gambar dan harga, tetapi juga menyertakan cerita mengenai kain yang ditawarkan.

“Saran saya juga perbanyak promosi melalui media sosial dengan narasi yang bagus. Story telling cerita tentang apa itu Telopoi, apa itu Ragi,” katanya.

Cerita tersebut penting karena tenun Nagekeo memiliki beragam jenis, di antaranya Ragi, Hoba Nage, Hoba Geo, Dhowik, dan Telopoi. Setiap jenis memiliki karakteristik dan nilai budaya yang perlu dikenalkan secara tepat kepada pembeli.

Dengan menyertakan cerita, pemasaran digital dapat menjadi sarana memperkenalkan pengetahuan budaya kepada konsumen yang sebelumnya tidak mengenal tenun Nagekeo.

Di sisi lain, upaya itu perlu disertai pemahaman mengenai proses pembuatan kain dan keterampilan yang menopang keberlangsungannya.

Pengamat budaya Wilibrodus Lasa menekankan pentingnya menjaga tradisi menenun, termasuk membedakan kain yang dibuat melalui proses tradisional dengan kain bermotif tenun yang diproduksi menggunakan teknik cetak.

Perluasan pasar, menurutnya, perlu berjalan seiring dengan upaya menjaga keterampilan, pengetahuan, dan regenerasi penenun.

"Untuk generasi muda, tenun perlu diperkenalkan bukan hanya sebagai produk yang bisa dijual, melainkan juga sebagai bagian dari identitas masyarakat" tutur Wilibrodus.

Promosi digital dapat membantu memperkenalkan nilai tersebut kepada calon pembeli selama cerita yang disampaikan tidak menghilangkan konteks budaya kain.

Wilibrodus Lasa juga mengingatkan bahwa kemajuan teknologi seharusnya berjalan seiring dengan pelestarian tradisi kekayaan intelektual termasuk tenun ikat.

“Jadi ketika teknologi digital membawa tenun kita ke pasar yang lebih jauh, jangan hanya kainnya yang sampai. Cerita dan budayanya juga harus ikut sampai,” ujarnya.

Memperluas pasar tenun ikat Nagekeo berarti membuka peluang ekonomi bagi perajin sekaligus menjaga motif, keterampilan, dan warisan budaya lintas generasi.

Teknologi dapat membawa kain melampaui batas wilayah, tetapi keberlanjutan tenun tetap bertumpu pada orang-orang yang membuatnya, pengetahuan yang mereka wariskan, dan nilai budaya yang menyertainya.