Bahasa Ibu Benteng Karakter Remaja Hadapi Arus Globalisasi Digital
- Mikael Risdiyanto
NTT VIVA – Di tengah derasnya peradaban digital yang serba cepat, Bahasa Ibu kerap tersisih oleh euforia kefasihan generasi muda dalam melafalkan diksi-diksi asing. Banyak remaja tampil percaya diri meniru model global dan menjadi global citizen yang lincah menembus sekat-sekat virtual, sebuah pemandangan yang kerap membanggakan.
Namun di balik gemerlap itu, Bahasa Ibu menyimpan pertanyaan mendasar tentang keutuhan karakter remaja. Wakil Kepala Humas SMPK Mardi Wiyata Kediri, Agnes Dyah Trihutaminingsih, S.Pd., M.H., menilai perlu ada refleksi mendalam: mampukah generasi muda tetap mendengar bisikan jiwanya sendiri, atau justru kehilangan identitas karena sekadar menjadi tiruan tokoh-tokoh yang dikagumi, Kamis (5/2/2026).
Menurut Agnes, Bahasa Ibu memiliki peran krusial dalam membentuk identitas budaya sekaligus menjadi sarana utama pewarisan nilai, tradisi, dan norma antargenerasi. Bahasa pertama yang dikenal anak bukan hanya alat komunikasi, melainkan fondasi karakter yang menanamkan rasa, empati, dan etika sejak dini.
Agnes Dyah Trihutaminingsih (kanan)
- Mikael Risdiyanto
Di era digital, keberlangsungan bahasa ibu menghadapi tantangan serius akibat globalisasi dan dominasi teknologi. Data UNESCO tahun 2023 menunjukkan hampir 40 persen dari sekitar 7.000 bahasa di dunia terancam punah, dengan bahasa ibu menjadi kelompok paling rentan tergerus oleh bahasa global seperti Inggris dan Mandarin.
Lebih dari sekadar sistem linguistik, bahasa ibu merupakan resonansi awal yang mengetuk batin manusia. Ia memengaruhi respons emosional individu dan membentuk identitas budaya sejak masa kanak-kanak. Tak heran jika bahasa ibu kerap dikaitkan dengan kedalaman rasa dan pengalaman paling awal dalam hidup seseorang.
Agnes mengutip pernyataan Nelson Mandela yang menyebut bahwa berbicara dalam bahasa ibu akan langsung menyentuh hati. Ketika orang tua atau pendidik menggunakan bahasa pertama anak, yang berpindah bukan hanya informasi, melainkan energi afeksi yang menumbuhkan empati, rasa hormat, dan akar identitas personal.
Ia mengingatkan, ketika bahasa ibu mulai ditinggalkan, remaja berisiko kehilangan navigasi batinnya. Mereka mungkin fasih berbicara, namun sering kali gagap dalam merasa, kurang empati, dan tercabut dari nilai kejujuran, kerja keras, serta kasih sayang yang diwariskan secara turun-temurun.