Masih Ada Kerikil di Sepatu Presiden
- Sevrin Waja
Kasus yang menyeret pejabat publik dalam dugaan korupsi menjadi pukulan terhadap upaya membangun kepercayaan masyarakat. Program yang seharusnya menjadi simbol keberpihakan kepada rakyat justru berpotensi berubah menjadi sumber kekecewaan publik apabila pengawasan tidak berjalan efektif.
Karena itu, pembenahan tata kelola dan penegakan hukum yang tegas menjadi syarat mutlak agar agenda pembangunan tetap memperoleh legitimasi publik.
Pendanaan Asing, Perang Narasi, dan Mobilisasi Massa
Gelombang demonstrasi mahasiswa yang terjadi pada pertengahan 2026 memperlihatkan bahwa persoalan ekonomi, kebijakan publik, dan persepsi masyarakat saling berkaitan erat.
Tuntutan mengenai harga kebutuhan pokok, nilai tukar rupiah, hingga evaluasi program pemerintah mencerminkan keresahan yang nyata di tengah masyarakat. Namun, di saat yang sama muncul pula perdebatan mengenai kemungkinan keterlibatan jaringan pendanaan asing dalam mendukung sebagian aktivitas masyarakat sipil.
Perlu ditegaskan bahwa keberadaan bantuan asing tidak otomatis berarti intervensi politik. Akan tetapi, pengalaman sejumlah negara menunjukkan bahwa dukungan finansial lintas negara dapat digunakan untuk membangun jaringan advokasi, membentuk opini publik, dan memperkuat kapasitas mobilisasi sosial.
Inilah yang disebut sebagai transnational civil society leverage—pengaruh lintas batas yang bekerja melalui jaringan masyarakat sipil, lembaga advokasi, dan produksi narasi publik.
Karena itu, transparansi pendanaan organisasi masyarakat sipil menjadi penting, bukan untuk membatasi kebebasan berekspresi, melainkan untuk memastikan bahwa seluruh aktor yang terlibat dalam ruang publik bekerja secara terbuka dan akuntabel.
Menyingkirkan Kerikil
Pemerintahan Presiden Prabowo menghadapi tantangan yang tidak ringan. Sebagian berasal dari luar negeri melalui dinamika ekonomi global, perang persepsi, dan kepentingan oligarki lintas batas. Sebagian lainnya justru berasal dari dalam negeri berupa korupsi, lemahnya tata kelola, serta ketidakmampuan mengelola komunikasi publik.
Karena itu, menyingkirkan "kerikil" di sepatu Presiden bukan semata-mata soal menghadapi tekanan eksternal. Yang lebih penting adalah memastikan rumah sendiri tertata dengan baik. Sebab, ketika tata kelola kuat, institusi kredibel, dan kepercayaan publik terjaga, maka tekanan dari luar tidak akan mudah menggoyahkan arah perjalanan bangsa.