Api di Balik Lilin Yuliana

Lilin Paskah
Sumber :
  • Nera Academia

NTT ViVa– Di lereng pegunungan Poco Kuwus Manggarai Barat Flores yang sejuk dan sunyi, berdiri sebuah rumah sederhana beratap seng, dengan pekarangan luas yang ditumbuhi Bayam dan Kemangi. Di situlah Yuliana tinggal, bersama enam anaknya yang semua telah tumbuh remaja dan dewasa muda: Mikael, Lukas, Gratia, Rafael, Frans, dan si bungsu Vina. Semuanya anak Gen Z. Semuanya sibuk dengan gawai, medsos, dan urusan hidup yang sering membuat Yuliana bingung sekaligus khawatir.

img_title Paskah: Etos Kebangkitan

Hari itu Kamis sore, menjelang Tri Hari Suci. Angin membawa aroma tanah basah dan bau dupa dari Gereja kecil di ujung kampung. Yuliana menyuruh anak-anak bersiap mengikuti Misa Kamis Putih. Tapi seperti biasa, suara protes lebih dahulu datang sebelum langkah kaki.

“Ma, saya ada meeting online sama klien. Ini penting,” seru Mikael, anak sulungnya yang jadi desainer grafis lepas.

img_title 78 Mahasiswa Asistensi Paskah 2026 di Stasi Santu Yosep Indrong: Pelayanan Liturgi, Ekologi, dan Kebersamaan Umat

“Besok juga masih ada ibadah kan? Untuk apa tiap hari harus ke gereja?” tukas Lukas, sambil terus menggulir layar TikTok.

“Ma, kita kan bisa streaming Misa dari YouTube,” tambah Gratia. “Lebih hemat waktu dan data, toh? Kita tetap ikut.”

img_title Satlantas Polresta Kupang Kota Siapkan Rute Pawai Paskah 2026

Yuliana menarik napas panjang. Ia tak ingin marah. Tapi batinnya tergores. Ia bukan ibu yang anti teknologi. Tapi ia tahu, layar tidak bisa menggantikan keheningan di hadapan Sakramen Mahakudus, atau gemetar di tangan saat menerima lilin Paskah di tengah gelap malam.

Ia hanya berkata pelan, “Anak-anak, Kamis Putih bukan sekadar ritual. Itu peringatan Yesus membasuh kaki para murid. Ia, Tuhan, mau berlutut di hadapan manusia. Bisa tidak kita, setahun sekali saja, menyisihkan waktu buat Tuhan yang tiap hari urus hidup kita?”

Kalimat itu menggantung di udara. Ada yang tertusuk. Mikael perlahan mematikan laptop. Gratia menurunkan ponsel. Bahkan Lukas pun hanya menunduk.

Malam itu, mereka sekeluarga hadir di Gereja dusun. Dalam kesederhanaan—lilin kecil, salib berselubung ungu, dan nyanyian yang fals tapi tulus—Yuliana merasa damai. Saat pastor membasuh kaki dua belas umat, Yuliana memejamkan mata. Ia membayangkan Yesus membasuh dirinya yang penuh letih. Dan ia berdoa, semoga anak-anaknya mengerti, bahwa cinta selalu dimulai dari kerendahan hati.

Halaman Selanjutnya
img_title