Geothermal Indonesia: Antara Api yang Menyala dan Nurani yang Bertanya
- Dok. PLN
NTT ViVa– Di perut bumi Indonesia, tersembunyi kekuatan purba yang tak tergoyahkan oleh waktu: panas bumi. Ia bukan hanya warisan geologis, tetapi juga harapan masa depan yang gemilang. Namun seperti cahaya yang memancar dari api, geothermal tidak hanya membawa terang, tetapi juga bayang-bayang. Di tengah gegap gempita transisi energi dan desakan dunia untuk menghijaukan bumi, Indonesia berdiri di simpang jalan: apakah panas bumi adalah jawaban atau justru menambah daftar luka panjang atas nama pembangunan?
Energi dari Rahim Bumi
Indonesia adalah negeri cincin api, yang artinya tidak hanya rentan gempa dan letusan gunung, tetapi juga kaya akan energi panas bumi. Data Kementerian ESDM tahun 2024 menyebutkan, potensi panas bumi Indonesia mencapai 23,7 GW, terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Total Potensi: Sekitar 23,7 GW, tersebar di lebih dari 360 titik lokasi di seluruh Indonesia. Kapasitas Terpasang hingga 2024: Sekitar 2,6 GW, yang berarti baru sekitar 11% dari total potensi yang telah dimanfaatkan. Meskipun data potensi panas bumi Indonesia berkisar antara 23,6 GW hingga 23,9 GW dalam berbagai sumber, angka 23,7 GW sering digunakan sebagai referensi resmi oleh Kementerian ESDM.
Dengan potensi sebesar 23,7 GW, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan energi panas bumi sebagai bagian dari strategi transisi energi dan pencapaian target bauran energi terbarukan nasional. Namun, pemanfaatan yang masih sekitar 11% menunjukkan perlunya upaya lebih lanjut dalam pengembangan sektor ini.
Bayangkan, ketika dunia berseru mengurangi emisi karbon dan meninggalkan energi fosil, kita memiliki energi bersih di bawah kaki kita sendiri. Geothermal tidak mengemis pada cuaca seperti tenaga surya atau angin. Ia konstan, stabil, dan rendah emisi. Maka benarlah jika pemerintah menjadikannya bagian penting dari peta jalan menuju net zero emission 2060. Namun seperti semua hal yang menyentuh tanah, geothermal tidak berdiri di ruang kosong. Ia berjejak di desa-desa, di hutan-hutan adat, di tanah-tanah warisan leluhur.
Pro: Menjawab Tantangan Energi Global
Pendukung panas bumi menegaskan bahwa ini adalah peluang emas. Geothermal dianggap solusi ideal bagi Indonesia yang ingin tumbuh tanpa menambah beban iklim global. Di saat batu bara dikutuk, dan PLTN masih menjadi wacana, panas bumi tampil sebagai pahlawan yang senyap. Tidak seperti minyak yang bisa habis atau solar panel yang menanti mentari, geothermal bekerja siang dan malam, selama ratusan tahun.
Ekonom melihatnya sebagai investasi jangka panjang yang menjanjikan. Dalam jangka pendek memang mahal – pengeboran eksplorasi bisa menghabiskan puluhan juta dolar – tetapi biaya operasionalnya rendah dan ramah lingkungan. Bahkan dalam Peraturan Presiden No. 112 Tahun 2022, pemerintah telah menetapkan skema harga jual listrik dari panas bumi yang lebih fleksibel, untuk menarik investor swasta. Proyek-proyek seperti Ulubelu di Lampung atau Lahendong di Sulawesi Utara menjadi bukti bahwa geothermal bisa berkontribusi nyata.
Lebih jauh, dalam konteks geopolitik energi, geothermal memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang tidak bergantung pada impor energi. Di tengah krisis global seperti perang Rusia-Ukraina yang mengguncang pasokan energi Eropa, energi domestik seperti geothermal menjadi penopang stabilitas nasional.
Kontra: Luka Sosial di Balik Energi Hijau
Namun apakah semua itu cukup untuk menutup mata dari jerit sunyi masyarakat adat dan komunitas lokal? Geothermal, bagaimanapun, bukan proyek tanpa dampak. Banyak konflik bermula dari tumpang tindih klaim lahan antara negara, korporasi, dan masyarakat. Di Flores, proyek panas bumi di Poco Leok, Manggarai, memantik gelombang penolakan. Bukan karena warga anti kemajuan, tetapi karena mereka merasa tak didengar.
Proyek sering kali dimulai tanpa kajian sosial mendalam, tanpa dialog sejajar, apalagi persetujuan bebas, didahului, dan diinformasikan (FPIC) yang seharusnya menjadi prinsip dasar dalam pembangunan berkeadilan. Masyarakat merasa tanah ulayat mereka dipatok, hutan adat dibongkar, dan ruang hidup direnggut oleh bor-bor raksasa yang datang tanpa permisi.
Tak hanya itu, kekhawatiran akan pencemaran, gangguan air tanah, serta risiko gempa kecil akibat aktivitas geotermal menjadi alasan kecemasan. Kajian lingkungan sering terasa normatif dan dokumen Amdal menjadi sekadar formalitas. Ketika pembangunan hanya dimaknai sebagai deret angka investasi, maka nilai-nilai lokal, spiritualitas ruang, dan relasi ekologis masyarakat terabaikan.
Menuju Energi yang Tidak Hanya Bersih, Tetapi juga Adil
Apakah mungkin membangun energi hijau tanpa mengorbankan manusia? Itulah pertanyaan hakiki yang menghantui geothermal di Indonesia. Argumentasi atas geothermal seharusnya tidak berhenti pada efisiensi teknis dan angka emisi. Harus ada dimensi etis dan filosofis yang menyertai.
Transisi energi tidak bisa hanya berarti mengganti batu bara dengan energi terbarukan, tetapi tetap dalam logika eksploitasi. Ia harus menjadi transformasi cara berpikir: dari menaklukkan alam menuju merawat bumi. Dari mendominasi masyarakat lokal menjadi merangkul mereka sebagai mitra utama.
Geothermal bisa menjadi berkah jika dikelola dalam kerangka keadilan ekologis. Itu berarti partisipasi penuh masyarakat lokal sejak tahap awal. Itu berarti akuntabilitas korporasi dan negara dalam dampak sosial-lingkungan. Itu berarti menghormati wilayah adat, spiritualitas lokal, dan hak atas tanah.
Untuk Siapa Energi Ini Menyala?
Jika geothermal adalah solusi, maka pertanyaan mendasarnya adalah: untuk siapa energi ini menyala? Untuk desa-desa yang selama ini gelap, atau untuk industri yang lapar energi? Untuk rakyat atau untuk laba?
Kita tidak sedang menolak energi hijau, tetapi menolak cara-cara lama dalam kemasan baru. Tidak ada yang lebih ironis dari energi yang bersih secara fisik, tetapi kotor secara sosial. Tidak ada yang lebih tragis dari proyek yang membawa cahaya, tetapi meninggalkan luka.
Mengapa dalam setiap proyek besar, suara yang kecil selalu dikecilkan? Mengapa kepentingan lokal selalu kalah oleh narasi nasional? Bukankah seharusnya pembangunan adalah simfoni, bukan monolog?
Menuju Jalan Tengah: Energi yang Merawat
Di tengah pro dan kontra, Indonesia butuh jalan tengah: geothermal yang ramah bumi sekaligus ramah nurani. Itu berarti memperkuat tata kelola energi yang demokratis, transparan, dan berbasis hak. Pemerintah, korporasi, dan masyarakat sipil harus duduk bersama, bukan saling menegasi. Akademisi dan jurnalis harus menjadi penuntun cahaya, bukan sekadar pembaca data.
Harus ada peta jalan geothermal yang bukan hanya teknokratis, tetapi juga humanis. Harus ada kebijakan yang melihat energi bukan semata komoditas, tetapi juga bagian dari kehidupan sosial, budaya, dan spiritual.
Api dan Jiwa
Geothermal adalah api yang menyala dari dalam bumi. Tapi api juga bisa membakar, jika tak dijaga. Maka tugas kita adalah memastikan bahwa api itu menjadi cahaya, bukan luka. Bahwa energi masa depan bukan hanya tentang listrik, tetapi juga tentang keadilan. Karena bumi bukan hanya tempat kita berdiri, tapi juga tempat kita berbagi.
Dan di situlah letak pertaruhan sesungguhnya: apakah Indonesia bisa menjadi contoh dunia, bukan hanya karena potensi geotermalnya, tetapi karena keberaniannya menjadikan energi sebagai jalan etika, bukan sekadar jalan ekonomi?