Berlayar Menuju Pulau Paling Selatan

Warga Pulau Rote menyambut rombongan TBIG dan Filantra dalam kegiatan Bangun Sehat Bersama.
Sumber :
  • Sevrin Waja

Rote, NTTVIVA- Lampu-lampu Pelabuhan Tenau, Kupang, perlahan mengecil di kejauhan ketika kapal cepat Express Bahari meninggalkan dermaga pada pertengahan September tahun lalu.

img_title Ketika Sinyal Membuka Jalan Tenun Nagekeo ke Pasar Digital

Di antara ratusan penumpang, Asep Nurdin, CEO Filantra, duduk bersama salah satu stafnya, Majid Badar. Keduanya menyeberang menuju Rote, pulau di bagian paling selatan Indonesia, untuk menjalankan program kesehatan bersama PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG).

“Lama perjalanan seingat saya waktu itu mungkin sekitar dua jam,” ujar Majid mengenang perjalanan itu.

img_title Saat Bumi Berguncang, Menara TBIG Menjaga Flores Tetap Terhubung

Dua jam di atas laut menjadi awal dari pekerjaan yang lebih panjang. Setelah kapal merapat di Pelabuhan Ba’a, tim tidak langsung melaksanakan kegiatan.

Ada pemerintah desa yang harus ditemui, lokasi yang harus dipastikan, kebutuhan masyarakat yang perlu dipetakan, serta penerima manfaat yang harus disiapkan.

img_title Aksi Bangun Sehat TBIG Hadir di Tengah Pemulihan Gempa, Sasar Anak Disabilitas Nagekeo

“Kegiatan baru dimulai setelah tiga hari karena kami terlebih dahulu berkoordinasi dengan orang-orang di Desa juga pemerintah dan stakeholder setempat,” katanya.

Selama 17–19 September 2025, Filantra bersama TBIG menjalankan rangkaian kegiatan kesehatan di tiga lokasi di Rote. Sebelum kegiatan berlangsung, tim berkoordinasi dengan pemerintah desa, penerima manfaat, relawan lokal, tokoh masyarakat dan tenaga kesehatan.

Langkah tersebut menjadi bagian dari desain program. Bagi Filantra, bantuan kesehatan tidak semata-mata dimulai ketika tim tiba di lokasi, tetapi dari upaya memahami kebutuhan masyarakat terlebih dahulu.

Sebelum Bantuan, Memetakan Persoalan Kesehatan

Persoalan kesehatan menjadi salah satu tantangan yang masih dihadapi masyarakat Rote Ndao. Data aplikasi e-PPBGM per September 2025 mencatat 1.735 balita di kabupaten itu atau sekitar 16 persen mengalami stunting.

Persoalan tersebut berada dalam konteks tantangan gizi yang lebih luas di Nusa Tenggara Timur. Data Dinas Kesehatan NTT tahun 2025 mencatat jumlah balita stunting mencapai 20,2 persen atau 65.336 anak.

Namun, kesehatan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh persoalan gizi. Pengetahuan keluarga mengenai kebersihan diri dan pola hidup sehat juga menjadi bagian penting dalam pencegahan penyakit.

Karena itu, sebelum program dijalankan, Filantra melakukan asesmen untuk mengetahui kebutuhan masyarakat di lokasi yang menjadi sasaran kegiatan.

Filantra merupakan lembaga sosial dan konsultan pemberdayaan yang berdiri sejak 2015, dengan fokus pada Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), Corporate Social Responsibility (CSR), pengembangan masyarakat dan filantropi.

Halaman Selanjutnya
img_title