Program MBG di Nagekeo Mulai Berjalan: Berdampak Ekonomi, dan Peluang Kerja
- Sevrin Waja
Nagekeo, NTT VIVA– Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah program prioritas nasional yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Pelaksanaan tahap awal MBG di Kabupaten Nagekeo, NTT, dimulai melalui uji coba di Kecamatan Wolowae, dengan dukungan dapur mitra Badan Gizi Nasional (BGN) yang dikelola Satuan Pelayan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Alphard Graha Titian Harapan.
Dapur MBG yang dikelola yayasan milik Antonius Weka, bekerja sama dengan SPPG YGTH (Alphard Graha Titian Harapan) dan tim ahli gizi BGN. Target peserta tahap awal: 1.079 siswa dari PAUD, SD, SMP, hingga SMA di Wolowae yang berjumlah 16 lembaga pendidikan. Launching perdana dihadiri dua Wakil Ketua DPRD setempat, Lukas Y.P Boleng dan Yohanes Siga.
Standar Gizi Terukur dan Pengawasan Ketat
Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kecamatan Wolowae, Maria Oktaviana Sena, menyatakan pelaksanaan program berlangsung dengan lancar dan dua kali distribusi setiap harinya untuk kelompok usia yang berbeda.
"Kami dua kali distribusi. Pertama ke anak-anak TK sampai kelas 3 SD di pukul 09:00 pagi selanjutnya di kelas 4 SD sampai SMA makanya di jam 12 siang pelaksanaan program makan bergizi gratis hari pertama ini berjalan aman dan lancar," ujar Maria Oktaviana Sena, Senin, 25 Agustus 2025.
Menurut data BGN, diperlukan 28 dapur umum di Kabupaten Nagekeo; dapur MBG Wolowae diklaim dapat melayani 3.000–4.000 porsi per hari dan berpotensi menjangkau hingga Kecamatan Maukaro, Kabupaten Ende.
"Untuk satu dapur seharusnya bisa mengakomodir 3.000 sampai 4.000 porsi, misalnya di Kecamatan Wolowae ini bahkan bisa menjangkau sampai ke Kecamatan Maukaro, Kabupaten Ende," sambung Maria Oktaviana.
PMBG bertujuan tidak hanya memenuhi “kenyang” tetapi juga kebutuhan energi, protein, vitamin, dan mineral sesuai usia siswa. Ahli gizi dari BGN bertanggung jawab memastikan menu, persiapan, pengolahan, hingga pemorsian tetap sehat dan higienis.
Angka kecukupan gizi yang diberikan kepada siswa telah disesuaikan secara spesifik, misalnya siswa TK mendapat 328 kilokalori dan protein 25 gram, sedangkan siswa SD dan SMA memperoleh kebutuhan sesuai standar gizi yang dianjurkan, demi menunjang pertumbuhan dan prestasi belajar yang optimal.