Literasi dan Rumah Peradaban Menuju Indonesia Emas
- Sevrin Waja
Nagekeo, NTTVIVA- Di era digital, bangsa yang unggul bukan lagi semata-mata yang kaya sumber daya alam, melainkan yang mampu mengelola pengetahuan. Singapura, Korea Selatan, dan Israel menjadi contoh bagaimana investasi pada sumber daya manusia dan literasi mampu mendorong kemajuan bangsa.
Karena itu, literasi tidak lagi sekadar kemampuan membaca dan memahami teks, tetapi juga kemampuan memilah informasi yang kredibel, menguji kebenarannya, dan menggunakannya secara bertanggung jawab. Tanpa kemampuan tersebut, masyarakat akan mudah terjebak dalam banjir informasi, hoaks, dan disinformasi di ruang digital.
Secara global, UNESCO menempatkan literasi sebagai fondasi pembelajaran sepanjang hayat dan salah satu prasyarat utama pembangunan manusia. Literasi tidak lagi dipahami sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, memahami informasi, serta mengambil keputusan yang tepat di tengah derasnya arus informasi digital.
Di Indonesia, penguatan literasi masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Data Perpustakaan Nasional menunjukkan Indeks Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) nasional terus menunjukkan tren perbaikan, namun penguatan budaya membaca dan ekosistem literasi masih menjadi tantangan di berbagai daerah.
Dalam konteks lokal Nusa Tenggara Timur (NTT) Kabupaten Nagekeo menunjukkan capaian yang menggembirakan. Berdasarkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM), Nagekeo menempati peringkat kedua terbaik di NTT. Capaian ini menjadi modal penting untuk terus memperkuat budaya membaca dan menjadikan perpustakaan sebagai pusat pembelajaran sepanjang hayat.
Kesadaran inilah yang mendorong Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Nagekeo menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Literasi Informasi bagi pustakawan, guru, dan pegiat literasi. Selama tiga hari, sekitar 150 peserta berkumpul untuk belajar, berdiskusi, serta menyusun rencana aksi agar budaya literasi semakin tumbuh di sekolah maupun di tengah masyarakat.
Bagi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Nagekeo, penguatan literasi tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan individu dalam mengakses informasi, tetapi juga membentuk masyarakat yang mampu berpikir kritis, bijak, dan bertanggung jawab dalam menggunakan informasi.
Para peserta yang terdiri dari Pustakawan, guru, jurnalis, pengelola Sekolah non formal hingga pegiat literasi ini diharapkan menjadi agen literasi yang mampu menularkan pengetahuan kepada lingkungan sekitarnya.