Literasi dan Rumah Peradaban Menuju Indonesia Emas
- Sevrin Waja
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan tidak boleh berhenti sebagai wacana. Literasi harus melahirkan tindakan nyata, dimulai dari membaca, berpikir kritis, berdiskusi, lalu menggerakkan perubahan di lingkungan sekitar.
Perpustakaan sebagai Rumah Peradaban
Di balik berbagai tantangan, perpustakaan sesungguhnya memegang peran strategis dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Namun, tantangan itu tidak ringan.
Masih banyak masyarakat yang memandang perpustakaan sebatas tempat menyimpan buku, padahal perannya jauh lebih luas sebagai ruang belajar, ruang dialog, dan ruang bertemunya berbagai gagasan.
Perpustakaan adalah ruang tempat pengetahuan dipertemukan dengan pengalaman, tempat gagasan diuji melalui diskusi, dan tempat masyarakat belajar menjadi manusia yang merdeka dalam berpikir.
Plt. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Nagekeo, Serilus Babo Nuwa, mengakui pengembangan literasi masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah anggapan bahwa perpustakaan belum menjadi kebutuhan penting di tengah masyarakat.
Ia juga mengungkapkan keterbatasan anggaran yang dihadapi instansinya. Dari alokasi yang semula mencapai sekitar Rp4 miliar, anggaran kini tersisa sekitar Rp250 juta sehingga menuntut kreativitas dalam menjalankan berbagai program literasi.
Meski demikian, pihaknya tetap mendorong lahirnya konsep perpustakaan sebagai rumah peradaban. "Gagasan tersebut bahkan telah dipresentasikan kepada pemerintah pusat dan menjadi salah satu dasar dukungan pembangunan perpustakaan di Kabupaten Nagekeo" tutunya.
Perpustakaan kata Serilus, ingin membentuk ekosistem baru yang mana Perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan buku, tetapi menjadi ruang diskusi, ruang belajar, dan ruang bertemunya berbagai gagasan. "Kami berharap dukungan semua pihak dari berbagai profesi untuk bersama-sama membangun budaya literasi di Nagekeo," ujar Serilus.
Komitmen Dinas Perpustakaan menegaskan bahwa, literasi bukan sekadar kemampuan membaca, melainkan jalan menuju pengetahuan. Sebagaimana dikatakan Francis Bacon, "Knowledge is power" (Pengetahuan adalah kekuatan). Dari pengetahuan itulah lahir peradaban, dan dari peradaban itulah masa depan Indonesia Emas dibangun.