Menjemput Gabah dari Pematang
- Sevrin Waja
Program ini dijalankan melalui Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dan skema komersial guna menjaga stok nasional sekaligus menstabilkan harga di tingkat petani. “Kami dari Perum Bulog melalui penugasan pemerintah menyerap gabah untuk swasembada pangan, program ini bertujuan menjaga stabilitas harga di tingkat petani,” ujar Kepala Bulog Cabang Bajawa, Daenny Obidje.
Kepala Bulog Cabang Bajawa, Denny Obidje saat meninjau gudang Bulog, Danga
- Sevrin Waja
Bulog Bajawa, yang mencakup Nagekeo dan Ngada, menyerap GKP dengan menggandeng mitra untuk pembelian, penjemuran, hingga penggilingan sebelum disimpan. Penyerapan dilakukan pada gabah usia panen dengan kadar air maksimal 25% dan kotoran maksimal 10% guna menjaga mutu dan kepastian pasar.
“Untuk menyukseskan program ini kami berkolaborasi dengan pemerintah daerah, terutama dengan PPL untuk memastikan padi yang akan dipanen berkualitas baik sehingga menghasilkan beras bermutu,” katanya. “Kami beli di persawahan dan langsung bertransaksi dengan petani,” tambahnya.
Dari tiga Mitra, sejauh ini Bulog Bajawa berhasil menyerap lebih dari 70 ton gabah di musim tanam (MT) pertama 2026. Menurut salah satu Mitra Bulog, Jumlah serapan GKP tahun ini diperkirakan akan terus meningkat karena baru diserap MT pertama dan belum memasuki masa panen raya.
"Kalau kita lihat dengan grafik antusias petani cukup tinggi untuk menjual GKP, makanya saya sarankan untuk penambahan mitra" ujar Jackobus Mapa, salah satu mitra Bulog.
Produksi Meningkat, Sistem Berproses
Di tengah situasi tersebut, kehadiran program penyerapan gabah oleh Bulog mulai memberi alternatif bagi petani untuk keluar dari tekanan ijon dan beban pascapanen. Akan tetapi, perubahan ini tidak terjadi secara instan dan masih dalam proses di lapangan.
Yohanes Taa, PPL Irigasi Mbay, mengatakan bahwa sebelum ada program serap gabah Bulog, petani di Nagekeo umumnya menjemur gabah secara manual dengan mengandalkan sinar matahari, biasanya di halaman rumah atau lahan kosong lainnya.
“Dalam kondisi seperti itu, petani menanggung sendiri risiko harga dan ketidakpastian waktu jual. Saat musim hujan, penjemuran juga lebih lama dan mutu gabah bisa menurun,” ujarnya.
Ia mengapresiasi penyerapan gabah langsung dari pematang, sebab berimbas pada peningkatan produktivitas karena petani fokus ke pengolahan. "Bahkan petani bisa mengolah tiga kali setahun jika menggunakan varietas cepat panen,” ungkapnya.