Menjemput Gabah dari Pematang
- Sevrin Waja
Pertengahan Januari, Ferdinandus selesai menanam padi setelah mengeluarkan biaya besar. Saat perawatan, kebutuhan pupuk, obat hama, dan rumah tangga mendesak. Dalam keterbatasan modal, ia memilih ijon, menjual gabah sebelum panen dengan harga rendah. “Saya juga ada ambil ijon 500 kilo gabah, habis mau bagaimana lagi kebutuhan mendesak, kalau tidak begitu tidak bisa beli pupuk-obat,” akunya.
Praktik ini melibatkan pengepul yang memberi dana di muka dengan harga lebih rendah dari harga panen. Nilainya bergantung pada umur padi—semakin dekat panen, harga sedikit lebih tinggi. Di lapangan, ijon gabah berkisar Rp4.000 per kilogram, sedangkan beras Rp6.000–Rp7.000.
Meski membantu dalam kondisi mendesak, ijon membuat petani kehilangan kendali atas hasil panen dan posisi tawar tetap lemah, termasuk dalam praktik timbangan yang merugikan. “Memang Petani mayoritas ingin jual saat panen, tapi sudah terikat ijon,” ujar PPL Desa Olaia, Insosensia Beku.
Ijon membentuk lingkaran sulit diputus karena hasil panen sudah lebih dulu terjual. Petani juga lemah di hadapan pengepul, termasuk dalam praktik dacing timbangan yang cenderung merugikan petani.
Tanpa akses pembiayaan yang lebih adil, praktik ini terus berulang dan berpotensi memperkuat ketergantungan petani pada pengepul.
Selain peran Bulog, skema pembiayaan berbasis kelompok tani perlu diperkuat agar petani tidak lagi bergantung pada ijon. Tanpa akses modal yang lebih adil, peningkatan produksi justru berisiko memperbesar ketergantungan petani pada tengkulak.
Kolaborasi dengan perbankan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) berbasis kelompok tani dapat menjadi solusi, dengan skema yang menyesuaikan siklus tanam agar petani memiliki akses modal tanpa harus menjual hasil panen lebih awal.
Kepala Bank NTT Cabang Mbay, Nagekeo Mikhail Johanes menyebut pihaknya menyalurkan KUR lewat kelompok tani agar pengurus ikut memastikan kelayakan dan tanggung jawab kredit anggota. “Kolaborasi dengan dinas pertanian juga dilakukan agar bantuan bibit dan pengolahan lahan bisa menekan kebutuhan kredit serta biaya produksi petani” ungkap Mikhail.
Menuju Swasembada Pangan
Pilihan petani pada umumnya dipengaruhi akses pasar dan tenaga kerja. Di tengah situasi itu, Perum Bulog hadir lewat program penyerapan Gabah Kering Panen (GKP) dengan harga Rp6.500 per kilogram untuk mendukung swasembada pangan.