Menjemput Gabah dari Pematang
- Sevrin Waja
Apa yang disampaikan Yohanes sejalan dengan komitmen Pemkab Nagekeo melalui Dinas Pertanian yang mana mendorong peningkatan produksi sekaligus penguatan sistem serap. Data BPS mencatat luas sawah 7.093,99 hektare (4.988,71 hektare irigasi dan 2.105,28 hektare tadah hujan) dengan produksi 5,5–6 ton per hektare. Produksi gabah dilaporkan meningkat daa tiga tahun terakhir dari 37.550,25 ton (2023) menjadi 39.930,54 ton (2024) dan 45.680,42 ton (2025).
Kendati meningkat, produksi gabah Nagekeo masih tergolong standar, bahkan jauh dari harapan, sebab, pernah ada uji coba metode Smart Agriculture bersama Universitas Brawijaya menghasilkan 9–10 ton per hektare di beberapa demplot.
Dalam implementasi petani diajarkan bagaimana menggunakan benih unggul, mengatur tata letak tanah, menggunakan bibit yang masih mudah serta menanam tidak terlalu banyak.
“Dengan mengoptimalkan sifat fisiologis tanaman, produktivitas akan meningkat secara alami,” ujar Dosen Pertanian Universitas Brawijaya Prof. Agus Suyatno.
Dinas kemudian melakukan upaya intensifikasi peningkatan indeks tanam, bantuan benih, alsintan, pupuk, perbaikan irigasi dan jalan usaha tani serta ekstensifikasi melalui cetak sawah baru. “Selain itu, juga dilakukan ekstensifikasi melalui program cetak sawah baru untuk memperluas areal tanam,” ujar Kepala Dinas Pertanian Nagekeo, Primus Nuwa.
Fenomena produktivitas gabah di Nagekeo menunjukkan potensi menuju swasembada pangan, namun belum ditopang sistem yang kuat. Diperlukan kolaborasi petani, pemerintah, dan Perum Bulog serta pembenahan akses permodalan agar petani tidak terus terjebak ijon.
Program penyerapan gabah menjadi pengungkit penting untuk menjaga harga sekaligus mendorong produktivitas, sehingga masa depan pangan dapat bertumpu pada kedaulatan, bukan keterpaksaan.