Messi dan Ekologi Pikiran: Membaca Tiga Gol Lionel Messi pada Penampilan Perdana Argentina di Piala Dunia 2026
- IMAGN IMAGES via Reuters/Jay Biggerstaff
Oleh: Fortunatus Hamsah Manah
VIVA NTT– Piala Dunia selalu lebih dari sekadar pertandingan sepak bola. Ia adalah ruang tempat manusia memproyeksikan harapan, identitas, dan makna. Di dalamnya, gol bukan hanya peristiwa teknis yang tercatat dalam statistik, melainkan bahasa simbolik yang menghubungkan emosi jutaan orang.
Karena itu, ketika Lionel Messi mencetak tiga gol pada penampilan perdana Argentina di Piala Dunia 2026, dunia tidak hanya menyaksikan seorang pemain menambah koleksi golnya. Dunia sedang menyaksikan bagaimana seorang manusia telah berubah menjadi sebuah ekologi pikiran.
Banyak orang mengira bahwa usia akan menggerus pengaruh seorang pesepak bola. Namun Messi seakan membantah asumsi itu. Di usia yang tidak lagi muda, ia justru memperlihatkan sesuatu yang lebih esensial daripada sekadar kecepatan atau kekuatan fisik: kecerdasan membaca ruang, ketenangan, dan kemampuan mengubah momen menjadi makna.
Ketiga gol tersebut memang tercatat dalam statistik FIFA sebagai angka. Akan tetapi, dalam perspektif yang lebih filosofis, ketiganya adalah manifestasi dari logos, yaitu akal dan keteraturan yang mengatasi kekacauan permainan. Messi tidak sekadar mencetak gol; ia menciptakan harmoni di tengah kompleksitas.
Seperti halnya negara yang tidak hanya berdiri atas wilayah geografis tetapi juga atas kesadaran kolektif warganya, Messi pun telah melampaui keberadaannya sebagai individu biologis. Ia menjelma menjadi ruang makna yang hidup dalam kesadaran jutaan orang. Ia adalah sebuah "ekologi pikiran".
Ernst Haeckel mendefinisikan ekologi sebagai hubungan timbal balik antara organisme dan lingkungannya. Namun dalam pengertian yang lebih luas, Gregory Bateson memperkenalkan gagasan tentang ecology of mind—bahwa pikiran tidak berdiri sendiri, melainkan hidup dalam jaringan relasi, simbol, dan komunikasi. Dalam konteks inilah fenomena Messi menjadi menarik.
Messi tidak lagi hanya berada di Buenos Aires atau Miami. Ia hidup dalam pikiran para pendukung Argentina di Jakarta, Kupang, Ruteng, Labuan Bajo, Tokyo, hingga Nairobi. Ia menjadi simpul yang menghubungkan jutaan kesadaran manusia melalui satu bahasa universal: sepak bola. Tiga gol pada pertandingan pembuka Piala Dunia 2026 itu sesungguhnya menunjukkan tiga dimensi ekologi pikiran Messi.