Mencari Jalan Keluar dari Lingkaran Putus Sekolah
- Sevrin Waja
Di usianya yang menginjak 13 tahun, Rifki nyaris tak lagi memiliki rutinitas belajar. Hari-harinya lebih banyak dihabiskan bermain bersama teman sebaya dan sesekali membantu pekerjaan ringan di rumah. “Saya sebenarnya mau dia sekolah lagi. Kita orang tua tentu mau kalau anak bisa sekolah lagi. Kalau ada kesempatan, saya senang sekali kalau dia bisa lanjut,” ujar Nur.
Meski sudah lama meninggalkan bangku sekolah, keinginan untuk belajar sebenarnya belum sepenuhnya hilang. Rifki mengaku bersedia kembali bersekolah jika mendapat kesempatan. Namun, ia berharap dapat bersekolah di tempat lain karena merasa malu bertemu teman-teman seusianya yang kini telah duduk di bangku SMP. “Kalau sekolah lagi saya mau. Tapi jangan di sini, malu sama teman-teman,” ujarnya pelan.
Rasa malu karena tertinggal jauh dari teman sebaya menjadi hambatan yang tidak kalah besar dibanding persoalan ekonomi yang dihadapi keluarganya. Namun, kisah Rifki dan Muhammad bukanlah cerita yang berdiri sendiri.
Di Indonesia terdapat sekitar 4,1 juta Anak Tidak Sekolah (ATS). Data Kemendikdasmen mencatat jumlahnya mencapai 4.149.742 anak usia 7–18 tahun, yang terdiri dari 47,45 persen belum pernah sekolah, 26,98 persen sudah lulus tetapi tidak melanjutkan, dan 25,57 persen putus sekolah (drop out).
Kelompok usia terbesar berada pada rentang 16–18 tahun dengan jumlah lebih dari 2 juta anak. Faktor utama penyebab ATS adalah kendala ekonomi, pernikahan dini, serta terbatasnya akses pendidikan di daerah terpencil.
Di Kabupaten Nagekeo, data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menunjukkan jumlah Anak Tidak Sekolah (ATS) menurun dari 2.783 anak pada 2024 menjadi 2.373 anak pada 2025. Pada periode yang sama, jumlah anak putus sekolah turun dari 859 menjadi 840 anak. Meski menunjukkan tren penurunan, angka tersebut masih tergolong tinggi.
Dari total 840 anak putus sekolah, sebagian besar berada pada jenjang pendidikan menengah, terutama SMA.
Di berbagai sudut Kabupaten Nagekeo, masih banyak anak yang harus meninggalkan bangku sekolah karena berbagai alasan.
Di Dusun Makipaket, Kelurahan Mbay II, Kecamatan Aesesa, persoalan serupa juga dialami sejumlah anak. Salah satunya adalah Julianus Bholong (12). Anak dari orang tua pekerja serabutan itu kini lebih banyak menghabiskan waktu menggembala domba di padang penggembalaan.