Festival Persahabatan Internasional Dibuka di Atambua, Diikuti 100 UMKM Gaet 10.000 Pengunjung per Hari

Festival Persahabatan Internasional 2026 dibuka di Atambua
Sumber :
  • Yohanes. M

Atambua, VIVA NTTFestival Persahabatan Internasional 2026 resmi dibuka di Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, melalui acara Friendship Dinner di Aula Betelalenok pada Rabu malam, 1 Juli 2026.

img_title Tutup Nusra Youth Day III, Gubernur NTT Dorong OMK Melek Literasi dan Berani Berwirausaha

Festival yang mengangkat tema "Kesembuhan Ilahi bagi Semua Orang" ini akan berlangsung empat hari, 2–5 Juli 2026, di Lapangan Umum Atambua, dan diperkirakan menyedot 8.000 hingga 10.000 pengunjung setiap harinya.

Selain rangkaian ibadah dan seminar spiritual, festival ini juga melibatkan 100 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terdaftar dalam festival kuliner khas Belu, bagian dari upaya panitia mengaitkan agenda spiritual dengan perputaran ekonomi mikro lokal.

img_title Gubernur Melki: Hutan Adat Harus Jadi Sumber Ekonomi Warga

Festival ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Belu, jaringan gereja lokal, dan tim pelayanan dari Calgary Life Church, Kanada, yang dipimpin Anthony Greco. Menurut Ketua Panitia Pelaksana Vincensius B. Loe, acara ini bermula dari komunikasi antara tim Kanada dan masyarakat di wilayah perbatasan Indonesia–Timor Leste.

Ini merupakan festival internasional kedua yang digelar Belu dalam waktu kurang dari sepekan, setelah Festival Fulan Fehan pada 27 Juni 2026 yang turut dihadiri Menteri Dalam Negeri dan delegasi Timor Leste.

img_title Lima Tahun Berjalan, Festival Olang Mangsari Makin Kuat Dongkrak Ekonomi Pulau Pura

Refleksi Geopolitik dan Kritik atas Relasi Digital

Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma mengaitkan penyelenggaraan festival ini dengan situasi geopolitik global, menyebut konflik Rusia–Ukraina, ketegangan AS-Israel dengan Iran, konflik Israel-Suriah, serta krisis kemanusiaan di Kongo, Uganda, Afghanistan, dan Pakistan sebagai bukti absennya nilai persahabatan antarbangsa.

"Dunia sekarang sedang tidak baik-baik saja karena tidak ada persahabatan. Apa yang dilaksanakan di Belu ini akan menjadi lilin kecil di tengah kegelapan dunia," ujar Johni Asadoma, Wakil Gubernur NTT

Kritik yang lebih tajam terhadap kondisi relasi sosial datang dari Ketua Majelis Pertimbangan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pendeta Gomar Gultom. Ia menilai transisi masyarakat dari pola hidup analog ke digital telah mengikis keintiman hubungan antarmanusia dan menggantinya dengan relasi yang serba transaksional.

"Kedekatan dan persahabatan makin hilang karena percepatan yang diakibatkan oleh peralihan masyarakat dari analog ke digital. Persahabatan sekarang difabrikasi oleh media sosial, dan tempat curhat beralih ke Facebook," kata Gomar Gultom.

Halaman Selanjutnya
img_title