Ketika Kapolsek Lembor Menaungi Mimpi Anak Petani
- Ist
Manggarai Barat, VIVA NTT–Mei 2024, Vikianus Jemadu baru saja lulus SD, tapi angan-angan mengenakan seragam SMP adalah mimpi yang sulit diraih. Bukan karena ia malas atau tak berniat, melainkan karena kemiskinan yang dipikul keluarganya jauh lebih berat dari usianya yang baru 12 tahun ketika itu.
Ayahnya, Alfonsius Jemadu (45), cuma buruh tani di Kecamatan Welak yang penghasilannya seperti hujan di musim kemarau. Kadang ada, kadang tak datang sama sekali. Dengan dua anak lain yang masih duduk di bangku SMA, biaya sekolah Viki terasa seperti gunung yang mustahil didaki. Getir itulah yang setiap hari dilihat langsung oleh Viki.
"Kami tidak mampu. Ada kakaknya dua orang di bangku SMA yang juga harus kami biayai," ungkap Alfonsius saat ditemui Rabu, 1 Juli 2026.
Alih-alih menyerah pada nasib, Viki memilih jalannya sendiri. Setiap hari ia menyusuri jalanan, memungut besi tua. Barang-barang bekas itu ditimbang dan dijual. Hasilnya ia titipkan ke tangan ibunya biar dapur keluarga biar terus mengepul.
Berpeluh dengan debu jalanan, dua mimpi besar bersemayam di dadanya: kembali ke bangku sekolah, dan mengejar mimpi menjadi pemain sepak bola. Namun mimpi itu terkunci rapat dalam laci kemiskinan, bahkan untuk mendaftar SMP saja, sang ayah tak sanggup.
Ketika Takdir Bekerja
Informasi tentang Viki rupanya mengetuk nurani seorang polisi. Alfonsius, ayah Viki dipanggil menghadap Kapolsek Lembor, IPDA Vinsensius Hardi Bagus.
"Saya bawa dengan Viki. Beliau (Kapolsek) tanya, apakah Viki niat sekolah? Saya jawab 'iya'," kenang Alfonsius.
Pertemuan perwira polisi dan seorang petani itu ibarat dua kunci yang membuka babak baru dalam hidup Viki. Sejak saat itu, IPDA Vinsensius mengambil alih seluruh tanggung jawab pembiayaan sekolahnya, terhitung sejak kelas VII SMP.
Ditemui di Mako Polres Manggarai Barat di sela seremoni Hari Bhayangkara ke-80, didampingi istrinya Flaviana Odety, Kapolsek yang akrab dipanggil Pak Sensi itu kembali mengenang cerita itu.
"Waktu mendengar dia masih punya niat kuat untuk sekolah, langsung kami urus. Saya panggil kedua orang tuanya dan sampaikan maksud kami membiayai dan mengurus pendaftaran ke sekolah yang dia mau," tutur IPDA Vinsen.