Nardi Nandeng Siap Maju Jadi Calon Ketua Presidium PMKRI 2026-2028, Usung Visi Kaderisasi dan Intelektualitas

Nardi Nandeng
Sumber :
  • Ist

Ia menegaskan, kaderisasi tidak boleh hanya dipahami sebagai tahapan formal untuk memperoleh status keanggotaan, tetapi harus menjadi proses pembentukan karakter, intelektualitas, spiritualitas, dan kemampuan kepemimpinan kader.

img_title Romo Bernard: PMKRI Jangan Jadi Ajang Rebutan Takhta

Menghidupkan PMKRI sebagai Laboratorium Intelektual

Selain kaderisasi, Nardi mendorong penguatan budaya intelektual di seluruh tingkatan PMKRI. Baginya, tradisi diskusi, riset, membaca, menulis, dan publikasi ilmiah harus kembali menjadi identitas kader PMKRI di tengah kompleksitas perubahan sosial yang menuntut kemampuan membaca persoalan secara kritis dan berbasis data.

img_title Rudi Rudolf Beno Pimpin PKB Manggarai, Targetkan Kemenangan di Pemilu Mendatang

“Saya ingin PMKRI menjadi laboratorium intelektual, pusat pengembangan gagasan, dan ruang lahirnya gerakan sosial yang berdampak. Diskusi tidak boleh berhenti pada forum, tetapi harus melahirkan riset, tulisan, rekomendasi, dan gerakan nyata,” kata Nardi.

Ia berpandangan, kekuatan organisasi mahasiswa terletak pada gagasan dan keberanian intelektualnya. Karena itu, PMKRI harus membangun ekosistem intelektual yang menghubungkan kader, akademisi, alumni, dan berbagai kelompok masyarakat.

img_title Jadi Tuan Rumah, PMKRI Cabang Ruteng Nyatakan Siap Sukseskan Kongres XXXIV dan MPA XXXIII Di Manggarai

Memperkuat Posisi sebagai Mitra Kritis Pemerintah

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, Nardi juga menegaskan pentingnya memperkuat peran strategis PMKRI sebagai mitra kritis pemerintah. Menurutnya, sikap kritis organisasi mahasiswa tidak cukup diwujudkan hanya melalui kritik dan pernyataan sikap, melainkan harus disertai kajian, advokasi, rekomendasi kebijakan, dan solusi konkret atas berbagai persoalan bangsa.

“PMKRI harus tetap kritis terhadap kekuasaan. Namun, kritik kita harus memiliki basis intelektual, data, dan tawaran solusi. Kita harus mampu menghadirkan rekomendasi kebijakan dan advokasi yang benar-benar menjawab persoalan masyarakat,” tegasnya.

Nardi menilai, jaringan kader dan cabang PMKRI yang tersebar di berbagai daerah Indonesia merupakan kekuatan yang harus dikonsolidasikan menjadi kekuatan pengetahuan dan gerakan, mampu membaca persoalan dari tingkat daerah hingga nasional.

Dengan semangat tersebut, Nardi menyatakan kesiapannya membangun komunikasi dan konsolidasi bersama seluruh kader PMKRI di Indonesia menjelang proses pemilihan Ketua Presidium PP PMKRI periode 2026–2028.

“Saya datang membawa niat, gagasan, dan komitmen untuk bertumbuh bersama PMKRI. Ini bukan perjalanan seorang Nardi Nandeng. Ini adalah ikhtiar bersama untuk memastikan PMKRI semakin kuat dalam kaderisasi, kokoh dalam intelektualitas, dan berdampak dalam perjuangan kebangsaan,” pungkasnya.