Dua Kursi, Satu Meja, 300 Harapan
- Dok. PMKRI
15 Tahun di Asrama, 7 Tahun di Kampus
Dulu seminari adalah simbol ketimpangan. Seminari tinggi seperti Ledalero hanya untuk laki-laki calon imam, belajar filsafat dan teologi.
Seminari menengah pun sama. 'Seminari Yohanes Paulus II Labuan Bajo' dulu hanya untuk anak laki-laki. Dididik berasrama setingkat SMA, penuh disiplin. Realitasnya: yang bisa masuk umumnya dari keluarga yang mampu secara ekonomi.
Tapi ±15 tahun terakhir, JP2 Labuan Bajo terima perempuan. Mereka tidak belajar filsafat. Tapi mereka hidup di asrama yang sama. Bangun subuh yang sama. Disiplin yang sama dengan saudara laki-lakinya.
Perubahan kedua terjadi di Ledalero. ±7 tahun terakhir, STF Ledalero bertransformasi jadi IFTK. Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif. Bukan karena perempuan masuk. Tapi karena kampus memperluas mandat: buka jurusan 'Teknologi Kreatif'.
Jurusan baru itu tidak mensyaratkan calon imam. Karena imam Katolik harus laki-laki, maka jurusan filsafat-teologi pada dasarnya tetap untuk calon imam dan suster biarawati. Ada mahasiswi yang kuliah filsafat-teologi di IFTK, tapi umumnya mereka para suster. Yang terbuka luas untuk perempuan awam adalah jurusan Teknologi Kreatif. Di situlah pintu masuk perempuan awam ke kampus yang dulu eksklusif laki-laki calon imam. Dan sama seperti JP2, yang kuliah di IFTK umumnya dari keluarga yang secara ekonomi mampu.
Sidang Kehormatan Pembukaan Kongres XXXIV & MPA XXXIII PMKRI Sanctus Thomas Aquinas Tahun 2026
- PMKRI
Artinya: alur pemimpin sudah berubah dua kali.
15 tahun lalu di asrama SMA Labuan Bajo: perempuan awam ditempa disiplin yang sama.
7 tahun lalu di kampus Ledalero: perempuan awam masuk lewat pintu teknologi.
Pengaruh sekolah seminari terasa kuat di Papua, Maluku, dan NTT. Dari asrama-asrama inilah lahir banyak pemimpin laki-laki selama puluhan tahun. Kini, pintu yang sama mulai dibuka untuk perempuan.
Dan Hari Ini, Meja Itu Digeser
Susana dari Papua dan Margaretha Kartika dari Manggarai adalah buah pertama.
Mereka mengetuk palu di depan 300 delegasi.
300 orang itu saksi. Mereka pulang bawa tiga cerita:
1. Di Ruteng, yang pimpin kongres perempuan.
2. Di Labuan Bajo, asrama seminari sudah 15 tahun didik anak perempuan dengan disiplin yang sama.