Dua Kursi, Satu Meja, 300 Harapan
- Dok. PMKRI
3. Di Ledalero, kampus filsafat sudah 7 tahun buka jurusan Teknologi Kreatif. Dan karena itu, perempuan awam bisa kuliah di sana.
Kenapa Ini Penting?
1. Disiplin Itu Tidak Punya Jenis Kelamin
15 tahun anak perempuan di JP2 Labuan Bajo ditempa sama: bangun jam 4, kerja, doa, belajar. Dari asrama-asrama seperti itu lahir generasi baru. Susana dan Kartika adalah contohnya. Tegas, terstruktur, siap pimpin forum nasional.
2. Teknologi Jadi Jembatan, Bukan Alasan
IFTK lahir karena perluasan ilmu. Filsafat bertemu Teknologi Kreatif. Rohani bertemu dunia. Jurusan filsafat-teologi tetap untuk calon imam dan suster. Tapi jurusan Teknologi Kreatif tidak terikat syarat imamat, sehingga perempuan awam bisa masuk. Murni logika pengembangan institusi.
3. Alurnya Berlapis
5 tahun lagi: alumni IFTK Teknologi Kreatif masuk birokrasi digital, ekonomi kreatif.
10 tahun lagi: alumni JP2 Labuan Bajo jadi bupati, DPR RI.
15 tahun lagi: Menteri Perempuan dari Timur bukan keajaiban, tapi keniscayaan.
Tapi Dua Kursi & 15+7 Tahun Tidak Cukup
Kita jujur. Di NTT, perubahan sudah mulai. Tapi belum ada yang selevel Ibu Megawati, Ibu Mooryati Soedibyo, Martha Tilaar, Sri Mulyani, Retno Marsudi.
NTT belum punya menteri perempuan. Papua baru satu. Maluku nol.
Sementara Anak laki2, lulusan sekolah Katolik sudah jadi menteri sejak Frans Seda. Dia bukan lulusan seminari, tapi dididik di sekolah Jesuit di Jawa Tengah.
Jalur tercepat perempuan Timur ke global hari ini masih: olahraga, aktivisme, pageant. Artinya kita bisa. Tapi lulusan JP2 dan IFTK harus masuk jalur utama: partai, birokrasi, diplomat.
Gong Sudah Dibunyikan
Maka Kongres di Ruteng ini adalah pratanda. Gong sudah dibunyikan.
Janji agar 15 tahun dari sekarang, tidak ada lagi anak perempuan di kampung pedalaman yang makan di dapur saat tamu negara datang. Karena dia yang jadi tamu negara. Dan dia mungkin alumni JP2 Labuan Bajo.
Janji agar lonto leok di Mbaru Gendang isi suaranya 50:50. Ine wai dan ata rona.
Janji agar belis dikembalikan ke makna: penghargaan, bukan 'jual beli anak perempuan'.
Susana dari Papua dan Margaretha Kartika dari Manggarai sudah mengetuk palu pertama.