Menenun Jalan ke Pasar Digital
- Sevrin Waja
Sebelumnya, Gramensiana menjual sekitar dua hingga empat kain dalam sebulan. Melalui pemasaran digital, pesanan dapat meningkat hingga empat sarung atau kain jadi dalam seminggu.
Ketika permintaan melebihi kemampuan produksinya, ia juga menghubungkan pembeli dengan penenun lain. Dengan cara itu, manfaat pemasaran digital tidak hanya dirasakan dirinya, tetapi turut membuka peluang pesanan bagi perajin lain.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana telepon genggam dapat menjadi penghubung antara perajin dan pasar yang lebih luas. Namun, jangkauan yang semakin jauh juga menuntut koneksi internet yang memadai.
Inda Nago, salah seorang penjual tenun daring, telah menggunakan Facebook dan TikTok untuk memperkenalkan produknya sejak 2021. Pembelinya berasal dari berbagai daerah di Indonesia hingga Malaysia dan Spanyol.
Meski pasarnya meluas, ia masih menghadapi kendala ketika mempromosikan produk secara langsung melalui siaran video.
“Internet juga kadang hilang muncul, kadang-kadang kita live tiba-tiba jaringan putus,” ungkap pemilik akun TikTok Teh Indah Butik yang memiliki 2.469 pengikut itu.
"Biasanya ketika saya posting di Medsos ada yang komentar tanya. Kalau ada yang berminat mereka Chat, sepakat uang ditransfer baru saya kirim barangnya" tambahnya.
Inda Nago pemilik Teh Indah Butik di Pasar Danga, Kecamatan Aesesa sedang live Tiktok memasarkan aneka produk tenun Nagekeo
- Sevrin Waja
Gangguan jaringan dapat memutus komunikasi dengan calon pembeli ketika promosi berlangsung. Padahal, bagi usaha kecil, media sosial dapat berfungsi sebagai etalase untuk memperlihatkan produk tanpa harus membuka toko di banyak tempat.
"Kendala itu palingkan soal jaringan, biasanya pas kita live Tiktok kemudian jaringan hilang" jelas Inda.
Kendala tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan pemasaran digital tidak hanya ditentukan oleh kemauan perajin untuk menggunakan teknologi.
Ketersediaan jaringan juga menentukan apakah kesempatan yang terbuka dapat dimanfaatkan secara konsisten.
Di sejumlah wilayah, persoalannya bahkan lebih mendasar: akses internet sama sekali belum memadai untuk mendukung pemasaran daring.
Ermelinda Goo, penenun berusia 48 tahun dari Desa Mbaenuamuri, Kecamatan Keotengah, masih mengandalkan penjualan langsung di pasar karena keterbatasan jaringan internet di wilayahnya.
“Di sini jaringan susah, saya selalu jual ke pasar,” katanya.
Sementara itu, Siti Sarah Mahmud, 47 tahun, dari Desa Nggolombay, Kecamatan Aesesa, menggunakan telepon genggam terutama untuk berkomunikasi. Ia belum memanfaatkan media sosial untuk memasarkan hasil tenun.