Menenun Jalan ke Pasar Digital

Cleofania Woga Nenu penenun asal Kampung Boawae, Kecamatan Boawae Kabupaten Nagekeo, NTT sedang asyik menenun Hoba Nage
Sumber :
  • Sevrin Waja

Sherly menjelaskan, kain yang dijual di pasar mingguan dan produk yang dipajang di showroom memiliki perbedaan dari segi bahan dan pengerjaan. Perbedaan tersebut turut memengaruhi harga serta segmen pembelinya.

img_title IWAPI Dorong Kebangkitan Ekonomi Pasca Gempa

"Perbedaan bahan, pengerjaan, dan motif dapat memengaruhi harga serta segmen pembeli" paparnya 

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa peluang ekonomi tenun tidak hanya ditentukan oleh luasnya pasar. Kualitas produk, kemampuan memenuhi permintaan, dan strategi pemasaran turut menentukan manfaat yang diterima perajin.

img_title Alan Samsudin Hibahkan Tanah untuk Hunian Tetap Penyintas Gempa

Pengalaman para penenun memperlihatkan hasil yang beragam. Cleofania Woga Naneu merasa terbantu mempromosikan kain, tetapi belum mengalami lonjakan penjualan yang berarti.

Gramensiana memperoleh lebih banyak pesanan dan menghubungkan pembeli dengan penenun lain. Inda Nago telah menjangkau konsumen hingga luar negeri, meski masih menghadapi gangguan jaringan.

img_title Wakil Bupati Nagekeo Meninggal Dunia Diduga Akibat Serangan Jantung

"Pemasaran digital perlu didukung upaya pengembangan usaha yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing penenun" ungkap Sherly.

Sebab, lanjut Sherly perluasan pasar akan lebih bermanfaat jika penenun mampu menjaga kualitas, memenuhi pesanan, dan memperoleh nilai ekonomi yang layak dari hasil kerjanya.

Memasarkan Kain, Mewariskan Identitas

Peluang pemasaran yang semakin luas juga membawa tantangan lain: bagaimana memperkenalkan tenun bukan hanya sebagai barang dagangan, tetapi sebagai produk yang memiliki sejarah dan identitas budaya.

Setiap kain membawa motif, teknik pengerjaan, dan pengetahuan yang diwariskan antargenerasi. Ketika kain dipasarkan kepada pembeli yang lebih jauh, informasi tentang asal-usul dan maknanya ikut menentukan bagaimana produk tersebut dipahami.

Naldo Liha, seorang pengumpul kain di Kupang, mengenal tenun Nagekeo melalui akun Instagram Dekranasda. Ia memilih kain berdasarkan foto, melakukan pembayaran, lalu menunggu pengiriman.

Naldo mengaku, sebagian kain tenun yang ia beli digunakan untuk kebutuhan pribadi, sedangkan sebagian lainnya dijual kembali secara daring.

“Beta kan langganan kalau untuk beli kain motif. Ada yang dijahit untuk baju kantor, ada juga sebagian yang dijual lagi secara online,” kata Naldo.

Sekretaris Dekranasda Nagekeo Sherly Mitang saat berada di showroom Dekranasda

Photo :
  • Sevrin Waja

Menurutnya, kain tradisional dapat mengikuti perkembangan mode tanpa kehilangan identitasnya.

“Sekalipun kain motif itu punya nilai budaya tapi bisa adaptif dengan perkembangan fashion zaman,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya
img_title