Menenun Jalan ke Pasar Digital

Cleofania Woga Nenu penenun asal Kampung Boawae, Kecamatan Boawae Kabupaten Nagekeo, NTT sedang asyik menenun Hoba Nage
Sumber :
  • Sevrin Waja

“Tidak pernah posting-posting di medsos. Saya hanya tenun kalau ada orang yang datang pesan,” ujarnya.

img_title IWAPI Dorong Kebangkitan Ekonomi Pasca Gempa

Kondisi mereka menunjukkan bahwa memiliki telepon genggam tidak serta-merta berarti seseorang telah terhubung dengan pasar digital.

Akses internet, keterampilan menggunakan platform, dan kemampuan mengelola penjualan sama-sama menentukan peluang perajin untuk berkembang.

img_title Alan Samsudin Hibahkan Tanah untuk Hunian Tetap Penyintas Gempa

Menjangkau Wilayah yang Belum Terhubung

Pengalaman para penenun tersebut memperlihatkan adanya kesenjangan dalam pemanfaatan teknologi. Sebagian sudah menjangkau pembeli hingga luar negeri, sedangkan sebagian lainnya masih bergantung pada pasar karena jaringan internet belum mendukung.

img_title Wakil Bupati Nagekeo Meninggal Dunia Diduga Akibat Serangan Jantung

Di Kabupaten Nagekeo, persoalan konektivitas menjadi salah satu tantangan dalam memperluas pemasaran digital.

Data pemerintah daerah Kabupaten Nagekeo pada 2026 masih ada 57 desa dan kelurahan yang mengalami blank spot, antara lain di Nangaroro, Keo Tengah, Mauponggo, dan Boawae.

Sarah Mahmud penenun di Desa Nggolombay, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, NTT sedang menenun Lipa Dhowik

Photo :
  • Sevrin Waja

Kondisi tersebut tersebar di sejumlah kecamatan dan menjadi tantangan dalam memperluas pemanfaatan internet untuk kegiatan ekonomi, termasuk pemasaran tenun secara daring.

Angka tersebut menggambarkan sebaran wilayah yang menghadapi persoalan konektivitas. Meski demikian, tidak berarti seluruh penduduk di setiap desa sama sekali tidak memperoleh sinyal. Kondisi jaringan dapat berbeda antarlokasi, bahkan di dalam satu wilayah desa.

Kepala Bidang Pengelolaan Informatika Dinas Komunikasi dan Informatika Nagekeo, Joachim Sala Bongo, mengatakan perluasan konektivitas penting agar internet dapat mendukung kegiatan ekonomi masyarakat, termasuk pemasaran produk lokal.

“Langkah ini penting agar internet tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi, tetapi juga dimanfaatkan untuk memasarkan produk dan memperkenalkan tenun lokal kepada konsumen yang lebih luas,” ungkap Joachim.

Perluasan jaringan menjadi langkah penting, tetapi bukan satu-satunya kebutuhan. Ketika akses internet tersedia, penenun juga perlu mengetahui cara memanfaatkannya untuk mengembangkan usaha.

Pendampingan dapat mencakup keterampilan membuat foto produk yang menarik, menulis deskripsi kain, menetapkan harga, berkomunikasi dengan pembeli, hingga mengelola pengiriman. Keterampilan tersebut membantu perajin mengubah keberadaan internet menjadi sarana pemasaran yang lebih efektif.

Joachim menekankan bahwa ketersediaan jaringan perlu berjalan bersama peningkatan kemampuan masyarakat dalam menggunakan teknologi.

“Tanpa dukungan tersebut, jaringan internet yang tersedia belum tentu berubah menjadi peluang ekonomi. Sebaliknya, keterampilan promosi yang baik pun sulit dimanfaatkan ketika koneksi terputus-putus,” ungkap Joachim.

Halaman Selanjutnya
img_title