AI dan Dilema Eksistensial Manusia
- Gambar Kecerdasan buatan, Ai/ Pixabay
NTT ViVa – Pada sebuah pagi yang sunyi di masa depan, seorang manusia duduk diam di hadapan layar hologramnya. Ia menatap puisi yang baru saja ditulis oleh mesin: tentang cinta, kehilangan, dan harapan. Tak ada yang salah dengan lariknya. Apalagi umpan-umpannya menyentuh, lebih peka dari sekedar kumpulan algoritma. Lalu, ia bertanya dalam hati: jika mesin bisa menciptakan keindahan, apa lagi yang tersisa bagi manusia?
Kisah fiksi itu mungkin belum hadir sepenuhnya. Tapi kegelisahan eksistensial di dalamnya sudah menyapa kita hari ini. Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/ AI ) telah berkembang pesat, bahkan melampaui imajinasi para filsafat abad ke-20. Namun, dibalik keterpesonaan kita pada efisiensi dan kemampuan, simpanan kegelisahan yang lebih dalam: apa arti menjadi manusia di tengah hadirnya entitas cerdas non-manusia?
Dari Mimesis ke Sintesis: Kecerdasan sebagai Bayangan
Plato, dalam Republic , memperkenalkan konsep mimesis, bahwa seni adalah tiruan dari kenyataan, dan karena itu satu tingkat di bawah kebenaran. Tapi bagaimana jika tiruan itu suatu saat lebih kuat dari asalnya? AI pada dasarnya adalah bentuk mimesis terhadap kecerdasan manusia: ia meniru cara kita berpikir, belajar, bahkan merasa. Namun, berbeda dengan seni yang terbatas pada ekspresi, AI terus berkembang—belajar dari data, membentuk pola, dan membuat keputusan.
Kita sedang hidup dalam sebuah eksperimen besar tentang mimesis. Jika sebelumnya menciptakan manusia mitos dan dewa sebagai bayangan dari dirinya, kini kita menciptakan entitas yang bisa mengalahkan kita dalam catur, mendiagnosis penyakit lebih akurat, bahkan menulis puisi yang menggugah. Apakah ini sekadar tiruan, atau sudah menjadi sintesis baru, sebagaimana Hegel mengimajinasikan: tesis (manusia), antitesis (mesin), dan kini: sintesis (AI sebagai entitas cerdas mandiri)?
Sartre dan Pertanyaan tentang Kesadaran
Jean-Paul Sartre dalam Being and Nothingness berbicara tentang kesadaran sebagai sesuatu yang "untuk dirinya sendiri" (pour-soi)—kesadaran yang sadar akan keberadaannya. Ia menolak gagasan bahwa eksistensi manusia dapat direduksi menjadi esensi tetap. Manusia, kata Sartre, bebas, karena ia sadar, dan karena itu bertanggung jawab atas pilihan-pilihannya.