Pendidikan Karakter di Era Digital Hadapi Tantangan Serius

Fr. Agustinus di asrama siswa SMPK Mardi Wiyata Kediri
Sumber :
  • Mikael Risdiyanto

NTT VIVA –  Praktisi Pendidikan Kota Kediri, Fr. Agustinus BHK., M.Pd, menilai pendidikan karakter di era digital menghadapi tantangan serius seiring pesatnya perkembangan teknologi yang mengubah pola belajar dan interaksi anak.

img_title Pendidikan Berkualitas Berdiri di Atas Fondasi Moral

Menurut Fr. Agustinus, ruang pendidikan saat ini tidak lagi terbatas pada sekolah dan keluarga. Ruang digital melalui gawai, media sosial, dan platform daring telah menjadi lingkungan baru yang secara aktif membentuk nilai, perilaku, dan cara berpikir generasi muda.

“Di era digital, sekolah dan keluarga bukan lagi satu-satunya lingkungan pembentuk karakter. Ruang digital bekerja tanpa henti dan sering kali tanpa pendampingan yang memadai,” ujar Fr. Agustinus, Senin (26 Januari 2026).

img_title Bantuan Pendidikan untuk SDK Buti: PT Nindya Karya, Sucofindo, dan Pertamina Kolaborasi di Manggarai Timur

Ia menyebut berbagai fenomena seperti perundungan digital, kekerasan simbolik di media sosial, serta perilaku ekstrem akibat paparan konten tanpa batas sebagai indikator melemahnya fondasi etik generasi muda. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kecakapan akademik perlu diimbangi dengan penguatan karakter.

Fr. Agustinus menjelaskan, karakter mencakup integritas, empati, tanggung jawab, serta pengendalian diri dalam menggunakan teknologi. 

img_title Kemendikdasmen Mulai Revitalisasi Sekolah 2026 di NTT, Anggaran Rp630 Miliar untuk 809 Sekolah

Menurutnya, karakter diuji ketika anak berhadapan langsung dengan layar tanpa pengawasan guru maupun orang tua.

Selain itu, ia menekankan pentingnya pemanfaatan data dalam merancang pendidikan karakter. Data penggunaan internet dan survei perilaku anak diperlukan agar kebijakan pendidikan tidak bersifat reaktif, tetapi berbasis kebutuhan nyata.

“Pendidikan karakter tidak boleh hanya normatif. Ia harus dirancang berdasarkan data agar relevan dengan kehidupan digital peserta didik,” ujarnya.

Fr. Agustinus menegaskan, pendidikan karakter di era digital bukan bertujuan membatasi penggunaan teknologi, melainkan membekali anak dengan nilai dan kesadaran diri untuk menggunakan ruang digital secara bertanggung jawab.

“Jika ruang digital telah menjadi bagian dari kehidupan anak, maka pendidikan karakter harus hadir di sana,” tandasnya.