Solusi Literasi Dongkrak Peringkat TKA Rendah di NTT
- Ist
Artikel ini merupakan materi advokasi Crescentia Atniseyla Tegok dalam ajang pemilihan Puteri Indonesia 2026
NTT VIVA– "Pendidikan di Nusa Tenggara Timur (NTT) bukan hanya soal nilai, peringkat, atau laporan resmi. Pendidikan adalah tentang harapan anak-anak yang setiap hari datang ke sekolah dengan semangat, meskipun fasilitas terbatas. Saya menyaksikan langsung tantangan literasi di NTT yang tercermin dari data Tes Kemampuan Akademik (TKA) terbaru di mana Nusa Tenggara Timur berada pada peringkat terendah secara nasional untuk Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris."
Kondisi Pendidikan di Nusa Tenggara Timur Berdasarkan Data TKA
Ketika saya membaca data Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang menunjukkan bahwa Nusa Tenggara Timur berada pada peringkat terendah secara nasional untuk nilai Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris, perasaan saya bercampur antara sedih dan prihatin. Namun lebih dari itu, saya merasa terpanggil. Karena di balik angka-angka tersebut, ada anak-anak yang saya kenal, yang saya temui, dan yang suaranya sering kali tidak terdengar.
Saya mengamati secara langsung kondisi pendidikan di lapangan. Banyak anak yang kesulitan memahami bacaan sederhana. Mereka membaca, tetapi tidak sepenuhnya mengerti isi bacaan tersebut. Hal ini terlihat dari rendahnya nilai Bahasa Indonesia, yang seharusnya menjadi dasar untuk memahami semua mata pelajaran lain. Di sisi lain, Matematika masih menjadi tantangan bagi banyak siswa karena mereka belum terbiasa berpikir logis dan memecahkan masalah secara bertahap. Sementara itu,rendahnya penguasaan Bahasa Inggris membuat anak-anak semakin jauh dari akses informasi global dan kesempatan di masa depan.
Tantangan Literasi dan Numerasi di NTT
Namun saya percaya, kondisi ini bukan karena anak-anak di Nusa Tenggara Timur kurang cerdas. Justru sebaliknya, mereka memiliki potensi yang besar. Yang masih kurang adalah kesempatanbyang setara, akses terhadap buku, ruang belajar yang nyaman, pendampingan yang konsisten, dan lingkungan yang mendukung budaya membaca dan belajar.
Kesadaran inilah yang mendorong saya untuk tidak hanya berbicara, tetapi juga bertindak.
Rumah Baca Aksara: Solusi Komunitas untuk Pendidikan