Kontraktor Mulai Perbaiki Jalan Ruteng–Reo yang Retak dan Ambles
- Engkos Pahing
Manggarai, VIVA NTT–Kontraktor proyek jalan nasional di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang dibiayai APBN 2025 senilai Rp23 miliar, mulai memperbaiki sejumlah titik kerusakan di jalur Ruteng–Reo. Pantauan di lokasi pada Selasa, 7 Juli 2026, menunjukkan sejumlah alat berat bekerja memperbaiki kerusakan di KM 5.
Penanggung jawab PT Floresco, Widi, menjelaskan permukaan aspal mengalami retakan dan penurunan tanah (ambles) di beberapa titik akibat curah hujan tinggi.
"Hari ini kita mulai perbaik, kita tambah lapisan AC/WC. Lapisan AC/WC ini kita lakukan dua lapisan entar," kata Widi kepada media ini di lokasi, Selasa.
Ia menjelaskan lapisan AC/WC (Asphalt Concrete-Wearing Course) merupakan lapisan aspal hotmix paling atas yang bersentuhan langsung dengan kendaraan.
"Lapisan ini berfungsi sebagai lapis aus yang kedap air untuk melindungi lapisan di bawahnya dari kerusakan akibat cuaca dan beban lalu lintas, serta memberikan permukaan jalan yang mulus," ujarnya.
Kerusakan Sempat Dilaporkan Sejak Maret
Media ini sebelumnya melaporkan bahwa ruas jalan yang sama, dengan nilai proyek disebut Rp19 miliar dari APBN 2025, telah mengalami kerusakan parah meski pengerjaannya baru rampung. Pantauan pada Selasa, 31 Maret 2026, menunjukkan retakan dan penurunan tanah di sejumlah titik KM 5.
Damianus, pengguna jalan yang ditemui di lokasi saat itu, mengkhawatirkan ruas jalan berisiko putus total jika curah hujan terus meningkat.
"Kondisi ini bisa putus total jika curah hujan terus meningkat hingga pertengahan April 2026 mendatang," ujarnya.
Ia juga menduga kerusakan dipicu proses pemadatan tanah yang tidak optimal sebelum pengaspalan.
"Kondisi ini sepertinya dipaksakan hotmix. Padahal, tanahnya belum padat betul apalagi curah hujan tinggi sejak mulai proses pengerjaan jalan ini," tambahnya.
PPK: Pergerakan Tanah Akibat Cuaca Ekstrem
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 3.3 Jalan Nasional, Nur Indah Indriani, menyatakan kerusakan disebabkan pergerakan tanah akibat intensitas hujan tinggi sejak Desember 2025 hingga Januari 2026.
"Bisa jadi karena kondisi tanah dan cuaca yang ekstrem. Beban berlebih juga bisa menjadi penyebab kerusakan," terangnya saat dihubungi terpisah.