Dua Kursi, Satu Meja, 300 Harapan

Sidang Kehormatan Pembukaan Kongres XXXIV & MPA XXXIII PMKRI Sanctus Thomas Aquinas Tahun 2026
Sumber :
  • Dok. PMKRI

Oleh: Ferdy Robin Dana

img_title Uskup Ruteng Tantang 60 Paroki Buktikan Tata Kelola Jujur

15 Tahun Asrama Dibuka, 7 Tahun Kampus Meluas, Kini Perempuan Timur Mengetuk Palu Dunia

Manggarai, NTT ViVa– Jam 5 pagi di sebuah kampung di pedalaman Manggarai. Kabut belum naik dari sawah. Di dapur beratap bambu, seorang ibu menanak nasi di atas tungku. Anak perempuannya, 17 tahun, duduk di lantai tanah, mengulang pelajaran. Seragam SMA-nya sudah diseterika, tergantung di bambu.

img_title PMKRI Ruteng Apresiasi Suksesnya Kongres XXXIII dan MPA XXXII

“Cepat makan, Nana. Nanti telat oto kol ke Ruteng,” kata si ibu.  

“Kalau tamu datang siang, Mama bilang saya ke sekolah, jangan ke kebun,” jawab si anak.

img_title Delvis Rettob Terpilih Aklamasi Ketua Presidium PP PMKRI

Di rumah itu ada dua meja. Meja depan, untuk bapak, anak laki-laki dan tamu. Meja dapur, untuk mama dan anak perempuan. Sejak kecil si anak tahu: kalau ada lonto leok, yang duduk melingkar hanya tua-tua adat. Banyak yang tidak tamat SD, atau tdk berpendidikan Tinggi tapi karena dia ata rona, kata-katanya jadi keputusan. Ine wai sarjana pun cukup dengar dari dapur: “Urus dapur saja.”

Si anak tadi pagi berangkat sekolah. Cita-citanya: kuliah. Dulu, itu mimpi kosong. Kampus-kampus terkenal di Jawa? Jangankan perempuan dari kampung pedalaman, dari NTT pun yang bisa ke sana dulu hanya anak kaum priayi, anak pejabat. Yang lain? “Kuliah tinggi-tinggi nanti siapa yang mau bayar belis?”. Belis yang niatnya penghargaan, di kampung jadi jual beli anak perempuan. Jadi pagar.

Palu sidang itu dipegang dua tangan perempuan.

Tangan pertama milik Susana, Ketua Presidium PP PMKRI. Anak Papua.  

Tangan kedua milik Margaretha Kartika, Ketua Presidium PMKRI Ruteng. Anak Manggarai. Mahasiswa di Ruteng.

Di Aula Assumpta, 19 Juli 2026, mereka buka Kongres XXXIV PMKRI. Kurang lebih 300 delegasi dari Merauke sampai Sabang berdiri, menundukkan kepala saat palu diketuk.

Sidang Kehormatan Pembukaan Kongres XXXIV & MPA XXXIII PMKRI Sanctus Thomas Aquinas Tahun 2026

Sidang Kehormatan Pembukaan Kongres XXXIV & MPA XXXIII PMKRI Sanctus Thomas Aquinas Tahun 2026

Photo :
  • Dok. PMKRI

Meja yang Selama Ini Memisahkan

Karena di banyak rumah di Papua, di Manggarai, di Maluku, masih ada dua meja itu. Dari meja itu nasib dibagi. Yang di depan disekolahkan jauh. Yang di dapur dijaga. Warisan? Tanah untuk ata rona. Rumah untuk ata rona. Ine wai “ikut suami”. Maka sejak kecil kami diajari jadi penumpang di rumah sendiri. Bagaimana mau bicara saham Freeport, blok Masela, kalau sertifikat tanah pun atas nama adik laki-laki?

15 Tahun di Asrama, 7 Tahun di Kampus

Dulu seminari adalah simbol ketimpangan. Seminari tinggi seperti Ledalero hanya untuk laki-laki calon imam, belajar filsafat dan teologi.

Seminari menengah pun sama. 'Seminari Yohanes Paulus II Labuan Bajo' dulu hanya untuk anak laki-laki. Dididik berasrama setingkat SMA, penuh disiplin. Realitasnya: yang bisa masuk umumnya dari keluarga yang mampu secara ekonomi.

Tapi ±15 tahun terakhir, JP2 Labuan Bajo terima perempuan. Mereka tidak belajar filsafat. Tapi mereka hidup di asrama yang sama. Bangun subuh yang sama. Disiplin yang sama dengan saudara laki-lakinya.

Perubahan kedua terjadi di Ledalero. ±7 tahun terakhir, STF Ledalero bertransformasi jadi IFTK. Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif. Bukan karena perempuan masuk. Tapi karena kampus memperluas mandat: buka jurusan 'Teknologi Kreatif'.

Jurusan baru itu tidak mensyaratkan calon imam. Karena imam Katolik harus laki-laki, maka jurusan filsafat-teologi pada dasarnya tetap untuk calon imam dan suster biarawati. Ada mahasiswi yang kuliah filsafat-teologi di IFTK, tapi umumnya mereka para suster. Yang terbuka luas untuk perempuan awam adalah jurusan Teknologi Kreatif. Di situlah pintu masuk perempuan awam ke kampus yang dulu eksklusif laki-laki calon imam. Dan sama seperti JP2, yang kuliah di IFTK umumnya dari keluarga yang secara ekonomi mampu.

Sidang Kehormatan Pembukaan Kongres XXXIV & MPA XXXIII PMKRI Sanctus Thomas Aquinas Tahun 2026

Sidang Kehormatan Pembukaan Kongres XXXIV & MPA XXXIII PMKRI Sanctus Thomas Aquinas Tahun 2026

Photo :
  • PMKRI

Artinya: alur pemimpin sudah berubah dua kali.  

15 tahun lalu di asrama SMA Labuan Bajo: perempuan awam ditempa disiplin yang sama.  

7 tahun lalu di kampus Ledalero: perempuan awam masuk lewat pintu teknologi.

Pengaruh sekolah seminari terasa kuat di Papua, Maluku, dan NTT. Dari asrama-asrama inilah lahir banyak pemimpin laki-laki selama puluhan tahun. Kini, pintu yang sama mulai dibuka untuk perempuan.

Dan Hari Ini, Meja Itu Digeser

Susana dari Papua dan Margaretha Kartika dari Manggarai adalah buah pertama.  

Mereka mengetuk palu di depan 300 delegasi.

300 orang itu saksi. Mereka pulang bawa tiga cerita:  

1. Di Ruteng, yang pimpin kongres perempuan.  

2. Di Labuan Bajo, asrama seminari sudah 15 tahun didik anak perempuan dengan disiplin yang sama.  

3. Di Ledalero, kampus filsafat sudah 7 tahun buka jurusan Teknologi Kreatif. Dan karena itu, perempuan awam bisa kuliah di sana.

Kenapa Ini Penting?

1. Disiplin Itu Tidak Punya Jenis Kelamin

   15 tahun anak perempuan di JP2 Labuan Bajo ditempa sama: bangun jam 4, kerja, doa, belajar. Dari asrama-asrama seperti itu lahir generasi baru. Susana dan Kartika adalah contohnya. Tegas, terstruktur, siap pimpin forum nasional.

2. Teknologi Jadi Jembatan, Bukan Alasan 

   IFTK lahir karena perluasan ilmu. Filsafat bertemu Teknologi Kreatif. Rohani bertemu dunia. Jurusan filsafat-teologi tetap untuk calon imam dan suster. Tapi jurusan Teknologi Kreatif tidak terikat syarat imamat, sehingga perempuan awam bisa masuk. Murni logika pengembangan institusi.

3. Alurnya Berlapis

   5 tahun lagi: alumni IFTK Teknologi Kreatif masuk birokrasi digital, ekonomi kreatif.  

   10 tahun lagi: alumni JP2 Labuan Bajo jadi bupati, DPR RI.  

   15 tahun lagi: Menteri Perempuan dari Timur bukan keajaiban, tapi keniscayaan.

Tapi Dua Kursi & 15+7 Tahun Tidak Cukup

Kita jujur. Di NTT, perubahan sudah mulai. Tapi belum ada yang selevel Ibu Megawati, Ibu Mooryati Soedibyo, Martha Tilaar, Sri Mulyani, Retno Marsudi.

NTT belum punya menteri perempuan. Papua baru satu. Maluku nol.  

Sementara Anak laki2, lulusan sekolah Katolik sudah jadi menteri sejak Frans Seda. Dia bukan lulusan seminari, tapi dididik di sekolah Jesuit di Jawa Tengah.

Jalur tercepat perempuan Timur ke global hari ini masih: olahraga, aktivisme, pageant. Artinya kita bisa. Tapi lulusan JP2 dan IFTK harus masuk jalur utama: partai, birokrasi, diplomat.

Gong Sudah Dibunyikan

Maka Kongres di Ruteng ini adalah pratanda. Gong sudah dibunyikan. 

Janji agar 15 tahun dari sekarang, tidak ada lagi anak perempuan di kampung pedalaman yang makan di dapur saat tamu negara datang. Karena dia yang jadi tamu negara. Dan dia mungkin alumni JP2 Labuan Bajo.  

Janji agar lonto leok di Mbaru Gendang isi suaranya 50:50. Ine wai dan ata rona. 

Janji agar belis dikembalikan ke makna: penghargaan, bukan 'jual beli anak perempuan'.

Susana dari Papua dan Margaretha Kartika dari Manggarai sudah mengetuk palu pertama.  

Seminari JP2 Labuan Bajo sudah 15 tahun membuka pintu asrama.  

IFTK Ledalero sudah 7 tahun membuka jurusan baru.  

Tugas kita kawal sampai palu itu diketuk di Jakarta, di New York, di Jenewa.  

Semoga akan ada wanita-wanita global ke depannya!, Dari Wamena, dari Lembor, dari kampung pedalaman, dari Ambon.

Sampai suatu hari, dia berdiri di podium PBB dan berkata:  

“Saya dididik di asrama yang sama dengan saudara laki-laki saya. Saya kuliah di IFTK karena jurusan Teknologi Kreatif dibuka untuk siapa pun yang mau belajar. Hari ini saya di sini bukan untuk minta dikasihani. Saya di sini untuk memimpin. Untuk tanah saya. Untuk Indonesia.”

Hari itu, meja yang dulu memisahkan, kini menyatukan.  

Hari itu, kerinduan kita lunas.

"Untukmu, Indonesia.  

Dari Perempuan Timur." 

Pro Ecclesia et Patria