Negara Hadir Saat Tulang Punggung Pergi

Eusabia Naja (57) ahli waris penerima jaminan kematian, warga Kelurahan Lape, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo
Sumber :
  • Sevrin Waja

Santunan BPJS Ketenagakerjaan 

img_title Transpuan dan Jalan Keluar Mencari Modal Usaha

Kepergian Wilem bukan hanya membawa luka dalam bagi keluarga, akan tetapi juga meninggalkan beban berat yang menggantung di udara. Katarina dan anak-anaknya menyadari, sejak saat itu, mereka tak hanya kehilangan pencari nafkah, tapi juga harus melanjutkan perjuangan hidup yang dulu ditanggung Willem. Kematian sosok tulang punggung, bukan hanya akhir dari sebuah kehidupan, akan tetapi awal dari perjuangan baru. 

Namun, di tengah perasaan gundah gulana dan kabut duka menyelimuti keluarga Katarina, satu hal menjadi penopang yakni santunan dari BPJS Ketenagakerjaan. Meski tidak mampu membayar seluruh hutang dan menghapus rasa kehilangan, bantuan itu setidaknya menjadi nafas pertama bagi keluarga yang hampir sesak oleh kenyataan.

img_title Menenun Jalan ke Pasar Digital

"Mama tidak ingat persis kapan, yang pastinya waktu itu setelah 40 malam, Petugas dari BPJS Ketenagakerjaan datang, namanya Pak Frengky, minta Mama untuk turun ke Mbay terima uang santunan," kenang Katarina.

Bagi Katarina, santunan BPJS Ketenagakerjaan yang Ia terima meski tak mampu menggantikan sosok Willem yang hilang, akan tetapi menjadi titian harapan memberi waktu bagi keluarga untuk kembali berdiri tegak di tengah kerapuhan hidup.

img_title IWAPI Dorong Kebangkitan Ekonomi Pasca Gempa

"Uang itu sebagian kami pakai untuk bayar hutang, terus pakai untuk bangun dapur rumah ini, yang sisanya simpan di Bank, untuk kebutuhan hari-hari kami," katanya.

Rehab Rumah Pasca Ditinggal Suami

Pagi itu, awal Januari 2025 lalu, sama seperti hari-hari sebelumnya, Anisetus Dhaga (70) pamit dengan istrinya Eusabia Naja (57) berangkat ke sawah meski kondisi fisiknya kurang sehat. Kendati sudah dilarang sang istri, ayah empat anak itu bersikeras turun menengok padi yang baru saja ditanam.

Dengan tubuh yang mulai ringkih dan kondisi kaki membengkak karena penyakit gula, Anisetus tetap memaksakan diri pergi ke sawah. "Saya berangkat dulu" pamitnya. Istrinya menoleh, menahan cemas “Jangan terlalu dipaksa kerja" katanya lirih. Lelaki itu hanya mengangguk, tersenyum tipis, seolah ingin meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Tak ada yang tahu, itu adalah senyum terakhir yang akan ia tinggalkan.

Dan benar saja, apa yang dikhawatirkan sang istri benar-benar terjadi. Setelah beberapa jam bekerja, tubuh Anisetus mulai limbung. Keringat dingin mengucur, matanya berkunang-kunang. Ia sempat duduk bersandar di pematang sawah, memegangi dadanya. Lalu tubuh itu jatuh diam, tanpa suara.

Halaman Selanjutnya
img_title