Negara Hadir Saat Tulang Punggung Pergi
- Sevrin Waja
Anisetus sempat dilarikan ke rumah sakit dan dirawat intensif, namun komplikasi gula darah akut yang sudah ia derita bertahun-tahun mengakhiri hidupnya. Warga Kelurahan Lape, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo itu meninggal dunia saat dirawat di RSUD TC Hillers, Maumere, Kabupaten Sikka.
"Saya punya suami meninggal jatuh di sawah, mungkin terlalu paksa kerja, padahal ada sakit-sakitan, kakinya bengkak sudah lama, dokter bilang gula tinggi," ujar Eusabia saat disambangi NTT VIVA di kediamannya, Senin 3 November 2025.
Duka yang dialami Eusabia dan anak-anak yang ditinggalkan tak datang sendiri. Kepergian sang suami meninggalkan beban berat. Atap rumah mereka hampir roboh tiangnya miring, sebagian dinding retak, dan atap bocor setiap hujan turun.
Jika selama ini Anisetus sebagai Kepala Keluarga adalah satu-satunya tulang punggung yang mencari nafkah, menahan sakit demi memperbaiki rumah dan menyekolahkan anak, kini semua tanggung jawab itu jatuh ke tangan istrinya.
Akan tetapi di tengah duka, tangan negara kembali hadir melalui BPJS Ketenagakerjaan. Meski tak bisa menghidupkan kembali suaminya, keluarga menerima santunan kematian. Uang itu tidak dipakai untuk berpesta atau membeli barang mewah tetapi untuk menegakkan kembali rumah yang hampir roboh, mengganti kayu yang lapuk, memperbaiki atap yang bocor, dan membuat dinding tak lagi goyah diterpa angin.
"Saya kaget waktu Bapak Lurah datang kasih tau bilang mau terima uang santunan, saya tanya santunan apa, Bapak Lurah bilang santunan BPJS Ketenagakerjaan, katanya kami dua suami istri ada dapat bantuan dana dari Pemerintah untuk bayar iuran," ungkap Eusabia.
Santunan senilai Rp42.000.000 itu kemudian digunakan untuk merehab rumah yang nyaris roboh itu. Kini, rumah janda Eusabia mulai diperbaiki. Tiang kayu diganti, atap dipasang ulang, dan lantai yang dulu retak perlahan dibenahi. Meski hati masih dipenuhi kehilangan, setidaknya santunan itu menghapus satu beban Eusabia takut kehilangan rumah sekaligus kenangan tentangnya.
"Kemarin biaya mungkin hampir Rp. 30 juta, beli kayu, semen, seng dan biaya tukang. Sisanya kami pakai untuk olah sawah," bebernya.