Mencari Jalan Keluar dari Lingkaran Putus Sekolah

Rifky Saputra (13) bersama ibunya Nur Aisah di kediamannya Desa Nangadhero, Kecamatan Aesesa Kabupaten Nagekeo
Sumber :
  • Sevrin Waja

Nagekeo, NTTVIVA- Potret keluarga miskin yang menempati rumah-rumah sederhana di Nagekeo menunjukkan bahwa pendidikan sering kali berhenti bukan karena pilihan, melainkan keadaan. Dari ruang-ruang kecil yang serba terbatas, anak-anak tumbuh di tengah tarik-menarik antara sekolah, kebutuhan ekonomi, dan tanggung jawab keluarga.

img_title Himapen Jakarta Bantu Penyintas Gempa, Sasar Kaum Rentan dan Korban dengan Kerusakan Masif

Di Kabupaten Nagekeo, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat masih terdapat lebih dari 18 ribu penduduk miskin atau sekitar 12 persen dari total penduduk. Kondisi ini memperlihatkan bahwa kemiskinan masih menjadi tantangan utama, terutama di wilayah pedesaan yang bergantung pada sektor informal dan pertanian subsisten.

Di ruang tamu sebuah rumah panggung, Nur Asyah (51) tengah menyusui anak bungsunya yang baru berusia dua tahun. Saat NTTVIVA tiba bersama Kepala Desa Nangadhero, Hironimus Milu, ia segera membangunkan Rifki Saputra (13), anak kelimanya yang sedang tertidur siang.

img_title Yohanes Siga: Integritas CPNS Harus Bermuara pada Pelayanan

Dengan wajah masih mengantuk, Rifki keluar dari kamar belakang dan duduk di ruang tamu. Rumah panggung berukuran sekitar 4x6 meter itu tampak sederhana. Dinding pelupu yang mulai lapuk membatasi ruang tamu, kamar tidur, dan dapur sempit di bagian belakang. Di sudut ruangan tampak televisi tua dan sejumlah barang elektronik rusak.

“Itu bapaknya kalau tidak melaut biasanya memperbaiki alat-alat elektronik rusak orang punya,” ujar Nur saat ditemui di kediamannya di RT 10, Dusun 04, Desa Nangadhero, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (19/6/2026).

img_title Gubernur NTT Minta Korban Gempa Didata Akurat: Jangan Ada yang Terlewatkan, Dosa Kita

Anak-anak di Dusun Makipaket saat mengikuti kelas persamaan Paket A

Photo :
  • Sevrin Waja

Nur dan suaminya, Samsul Sampo, membesarkan tujuh anak dengan mengandalkan penghasilan sebagai nelayan kecil. Pendapatan yang tidak menentu membuat kebutuhan keluarga, termasuk pendidikan anak-anak mereka, kerap menjadi persoalan. “Kakaknya yang baru tamat SMA kemarin sempat tunda ambil ijazah karena uang sekolah belum lunas,” ungkap Nur.

Keterbatasan ekonomi juga membuat dua anak Nur tidak mampu menuntaskan pendidikan. Rifki putus sekolah sejak kelas 1 SD dan hingga kini belum kembali ke bangku sekolah formal. Setiap kali dibujuk, ia menolak karena merasa malu telah tertinggal jauh dari teman-teman seusianya yang kini sudah duduk di bangku SMP.

Bukan hanya Rifki. Muhammad Said (17), salah satu kakaknya, juga harus menghentikan pendidikan saat masih SMP. Ketika NTTVIVA berkunjung, Muhammad sedang melaut bersama ayahnya untuk membantu mencari nafkah keluarga.

Halaman Selanjutnya
img_title