Terapi di Balik Jeruji: Merajut Harapan Tahanan Polres Ngada
- Sevrin Waja
Ngada, NTTVIVA-- Suara gerendel besi bergesekan dengan pintu sel memecah kesunyian ruang tahanan Polres Ngada, Senin pagi, 6 Juli 2026. Aroma lembap dinding beton bercampur udara pengap memenuhi ruangan sempit yang hanya diterangi cahaya matahari dari ventilasi berteralis.
Enam pria berbaju tahanan berjalan beriringan memasuki sel setelah hampir satu jam menjalani jemur pagi. Tangan mereka masih terborgol satu sama lain. Brigpol Y. Julianto Wele Bate dari Bagian Tahanan dan Barang Bukti (Tahti) mempersilakan mereka masuk sebelum pintu besi kembali dikunci.
Namun pagi itu rutinitas di balik jeruji berjalan berbeda. Beberapa menit kemudian keenam tahanan diarahkan duduk berbaris di koridor depan sel. Kasi Dokkes Polres Ngada, Aipda Heribertus A.B. Tena, memulai sesi terapi Universal Spiritual Emotional Freedom Technique (USEFT).
Mata para peserta terpejam mengikuti arahan mengatur napas. Mereka kemudian mengucapkan afirmasi, "Hari ini saya ijinkan pikiran saya terbuka untuk kebaikan diri saya. Saya manusia berharga. Masa depan saya masih panjang. Tuhan masih sayang saya. Keluarga saya masih menanti saya di rumah."
Di sela tarikan napas dan ketukan ringan pada sejumlah titik tubuh, tersimpan pergulatan yang tak terlihat: penyesalan, kerinduan kepada keluarga, kecemasan, sekaligus harapan untuk memperbaiki hidup.
Beban Mental di Balik Jeruji
Di antara peserta terapi, SD (38) mengikuti setiap arahan dengan tenang. Ia mengaku kehidupan di balik jeruji bukan hanya membatasi kebebasan, tetapi juga menguras kondisi batin.
"Saya merasa lebih tenang setelah ikut terapi ini. Pikiran yang sebelumnya kacau perlahan jadi lebih ringan. Saya juga belajar menerima keadaan dan berharap bisa menjadi pribadi yang lebih baik," ujarnya.
Tahanan asal Kecamatan Golewa itu mengaku terpukul ketika harus menjalani penahanan dalam kasus dugaan penipuan yang melibatkan rekan bisnisnya yang masih memiliki hubungan keluarga.
Masa-masa awal menjadi periode paling berat karena terus memikirkan putri semata wayangnya. "Keluarga sering datang menjenguk, tetapi anak tidak diizinkan masuk, padahal saya sudah rindu anak," katanya.
Kini ia bertekad menjadikan pengalaman tersebut sebagai pelajaran hidup. "Terima kasih untuk terapi ini. Beban pikiran terasa lebih ringan, setelah selesai terapi kepala terasa lebih plong," tuturnya.