6 Cara Menjernihkan Pikiran ala Filsafat Timur

Patung filsuf dewa Yunani kuno
Sumber :
  • AI Freepik

NTT ViVa– Filsafat Timur menawarkan berbagai cara untuk menjernihkan pikiran, yang berasal dari tradisi Islam, Taoisme, Konfusianisme, Buddhisme, Zen, Hindu, dan filsafat-filsafat lainnya. Tidak seperti filsafat Barat yang cenderung analitis dan rasional, filsafat Timur lebih menekankan keseimbangan, kesadaran diri, dan hubungan manusia dengan alam semesta.

Ahmad Yohan: Alsintan Berbasis Teknologi untuk Meningkatkan Produktivitas Petani

Berikut adalah beberapa cara menjernihkan pikiran berdasarkan berbagai ajaran filsafat Timur.

1. Filsafat Islam (tazkiyatun nafs: penyucian jiwa dan filsafat akhlak)

Dalam Islam, kejernihan pikiran tidak hanya berarti ketenangan mental, tetapi juga keterhubungan dengan Allah. Tazkiyatun Nafs (penyucian jiwa) yaitu kejernihan pikiran yang lahir dari kesucian hati dan jiwa. Jika hati bersih dari sifat buruk seperti iri, dengki, dan keserakahan, maka pikiran pun menjadi jernih.

Mudik Lebaran 2025: Fenomena Tradisi Berkolaborasi dengan Tren Digital

Cara menjernihkan pikiran dengan Tazkiyatun Nafs antara lain: Muhasabah (introspeksi diri) dengan cara merenungkan perbuatan, menyadari kesalahan, dan memperbaiki diri; Tafakur (merenungi kebesaran Allah), melihat ciptaan Allah dan menyadari kebesaran-Nya agar tidak terlalu larut dalam masalah duniawi; meningkatkan Amal Shalih yaitu berbuat baik kepada sesama untuk menenangkan hati.

Contoh: Jika seseorang merasa cemas dan gelisah, mereka bisa melakukan muhasabah untuk mencari akar masalahnya, kemudian memperbaiki niat dan mendekatkan diri kepada Allah.

Pembangunan Bendungan Lambo Molor, Persoalan Sosial Jadi Kendala

Sementara filsafat Akhlak: menjaga pikiran dari sifat negatif. Para filsuf Muslim seperti Al-Ghazali menekankan pentingnya membersihkan hati dari sifat-sifat buruk agar pikiran tetap jernih. Cara menjernihkan pikiran dalam filsafat Akhlak: menjauhi Hasad (Iri) dan Ghaflah (Kelalaian) dan menghindari pikiran negatif yang merusak ketenangan; membiasakan Husnudzan (berprasangka baik), berpikir positif kepada Allah dan sesama manusia agar tidak terbebani pikiran buruk. Menjaga lisan dan hati untuk tidak mudah berkomentar negatif, karena ucapan yang buruk dapat membebani pikiran sendiri.

Halaman Selanjutnya
img_title