Menjemput Gabah dari Pematang
- Sevrin Waja
Nagekeo, NTTVIVA-- Senja turun perlahan di persawahan Malawitu, Desa Olaia, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, NTT. Matahari mulai tenggelam di balik Gunung Amegelu, menyisakan semburat jingga yang menyapu hamparan padi menguning.
Di lahan Lukas Leba, deru mesin pemanen (combine harvester) memecah senyap. Padi dipotong, gabah dipisahkan, lalu ditampung dalam karung dan disusun di pematang. “Saya punya dua lahan. Satu sudah panen lebih dulu, sudah dijemur dan tinggal digiling. Kalau yang ini, semua gabah saya jual ke Bulog karena tidak ada tenaga jemur,” ungkap Lukas kepada VIVA, Selasa (5/5).
Dalam dua jam, panen menghasilkan 97 karung gabah yang kemudian ditimbang mitra Perum Bulog bersama PPL sebelum diangkut. “Tahun ini hasilnya memang turun, dipengaruhi serangan hama dan curah hujan yang tinggi,” ujarnya.
Lukas adalah satu dari ratusan petani yang memilih menjual gabah kering panen (GKP) ke Bulog untuk menghemat tenaga dan biaya. Hal serupa dilakukan Polikarpus Madhu, petani di irigasi Mbay. “Saya sudah dua kali jual gabah ke Bulog, paling sisa sedikit jemur baru digiling jadi beras untuk makan di rumah,” ungkapnya.
Kepala Gudang Bulog Danga, Yohanes Mujur saat mengambil sampel kadar air gabah kering panen (GKP)
- Sevrin Waja
Namun, di luar skema tersebut, sebagian petani masih memilih mengolah gabah menjadi beras sebelum dijual. Di titik ini, panen berubah menjadi keputusan: menjual cepat dengan risiko harga, atau menahan dengan beban tenaga.
“Kalau saya lebih baik jual beras, memang kuras tenaga, tapi harga beras lebih tinggi dibanding jual gabah,” ujar Kletus Isa, petani asal Desa Aeramo.
Beban Pascapanen di Tingkat Rumah Tangga
Dua lembar terpal terbentang di halaman rumah menjadi alas jemuran padi. Hermanus Wasa sibuk meratakan padi dengan garu kayu agar kering merata, sesekali membungkuk memastikan sebarannya tipis. Di sampingnya, sang istri Bergita Kutu cekatan memecah gumpalan dan merapikan padi agar cepat kering di bawah hangat matahari pagi.
Sudah hampir sepekan, pasangan suami istri asal Desa Aeramo ini disibukkan dengan proses penjemuran padi hasil panen mereka. Total sebanyak 103 karung gabah atau sekitar 8,5 ton dari lahan seluas 1,5 hektare harus dijemur secara bertahap di halaman rumah.