Dua Kursi, Satu Meja, 300 Harapan
- Dok. PMKRI
Oleh: Ferdy Robin Dana
15 Tahun Asrama Dibuka, 7 Tahun Kampus Meluas, Kini Perempuan Timur Mengetuk Palu Dunia
Manggarai, NTT ViVa– Jam 5 pagi di sebuah kampung di pedalaman Manggarai. Kabut belum naik dari sawah. Di dapur beratap bambu, seorang ibu menanak nasi di atas tungku. Anak perempuannya, 17 tahun, duduk di lantai tanah, mengulang pelajaran. Seragam SMA-nya sudah diseterika, tergantung di bambu.
“Cepat makan, Nana. Nanti telat oto kol ke Ruteng,” kata si ibu.
“Kalau tamu datang siang, Mama bilang saya ke sekolah, jangan ke kebun,” jawab si anak.
Di rumah itu ada dua meja. Meja depan, untuk bapak, anak laki-laki dan tamu. Meja dapur, untuk mama dan anak perempuan. Sejak kecil si anak tahu: kalau ada lonto leok, yang duduk melingkar hanya tua-tua adat. Banyak yang tidak tamat SD, atau tdk berpendidikan Tinggi tapi karena dia ata rona, kata-katanya jadi keputusan. Ine wai sarjana pun cukup dengar dari dapur: “Urus dapur saja.”
Si anak tadi pagi berangkat sekolah. Cita-citanya: kuliah. Dulu, itu mimpi kosong. Kampus-kampus terkenal di Jawa? Jangankan perempuan dari kampung pedalaman, dari NTT pun yang bisa ke sana dulu hanya anak kaum priayi, anak pejabat. Yang lain? “Kuliah tinggi-tinggi nanti siapa yang mau bayar belis?”. Belis yang niatnya penghargaan, di kampung jadi jual beli anak perempuan. Jadi pagar.
Palu sidang itu dipegang dua tangan perempuan.
Tangan pertama milik Susana, Ketua Presidium PP PMKRI. Anak Papua.
Tangan kedua milik Margaretha Kartika, Ketua Presidium PMKRI Ruteng. Anak Manggarai. Mahasiswa di Ruteng.
Di Aula Assumpta, 19 Juli 2026, mereka buka Kongres XXXIV PMKRI. Kurang lebih 300 delegasi dari Merauke sampai Sabang berdiri, menundukkan kepala saat palu diketuk.
Sidang Kehormatan Pembukaan Kongres XXXIV & MPA XXXIII PMKRI Sanctus Thomas Aquinas Tahun 2026
- Dok. PMKRI
Meja yang Selama Ini Memisahkan
Karena di banyak rumah di Papua, di Manggarai, di Maluku, masih ada dua meja itu. Dari meja itu nasib dibagi. Yang di depan disekolahkan jauh. Yang di dapur dijaga. Warisan? Tanah untuk ata rona. Rumah untuk ata rona. Ine wai “ikut suami”. Maka sejak kecil kami diajari jadi penumpang di rumah sendiri. Bagaimana mau bicara saham Freeport, blok Masela, kalau sertifikat tanah pun atas nama adik laki-laki?